KALTMPOST.ID, PENAJAM – Motif terbaru yang dirilis oleh Batik Bulau Sayang, bukan sekadar corak di atas kain. Ia hadir sebagai representasi kearifan lokal Suku Paser yang sarat filosofi.
Lewat nama motif Mayang Asare Tupak, La Pasere Nanggar, sang perancang batik, Ida Tuti Rusintan, ingin menyampaikan pesan mendalam tentang keberagaman dan persatuan masyarakat adat.
“Motif ini kami buat sebagai wujud semangat masyarakat Paser dalam menjaga harmoni di tengah perbedaan. Seperti semboyan Kabupaten PPU juga, berbeda-beda tetapi tetap satu,” ungkap Ida, Owner Butik Bulau Sayang, Minggu (13/7/2025).
Ida menjelaskan, motif Mayang Asare Tupak, La Pasere Nanggar, merupakan gabungan dari berbagai elemen khas Paser, seperti kepala rusa, mayang, dan sarung bolum.
Kepala rusa melambangkan satwa endemik PPU yang dihormati masyarakat adat, sedangkan mayang dan sarung bolum menggambarkan simbol kehidupan, kesejahteraan, serta warisan leluhur.
“Itu menjadi semacam narasi visual tentang kehidupan masyarakat Paser yang hidup berdampingan dengan alam dan sesama,” jelas Ida.
Yang menarik, motif ini tidak hanya ditampilkan dalam batik tulis, tetapi juga hadir dalam versi batik cap dan printing, sehingga dapat dinikmati oleh semua kalangan, mulai dari pencinta kain tradisional hingga masyarakat umum.
Untuk menjaga nilai eksklusif dan kualitas artistiknya, beberapa varian bahkan menggunakan pewarna alami dari kayu ulin, daun ketapang, hingga daun bekakang, yakni tanaman khas wilayah Kalimantan.
Proses pewarnaan alami ini memang lebih rumit dan memakan waktu, tapi hasilnya lebih tahan lama dan ramah lingkungan. "Kami ingin menjaga keberlanjutan budaya dan lingkungan secara bersamaan,” tambahnya.
Menurut Ida, masyarakat PPU, khususnya generasi muda, perlu lebih mengenal budaya sendiri. Karena itu, setiap batik dari Bulau Sayang tidak hanya menjual motif, tetapi juga membawa cerita, sebuah pendekatan budaya yang menjadikan batik sebagai media edukasi dan ekspresi identitas.
“Melalui batik, kami ingin masyarakat tahu bahwa budaya Paser kaya dan bisa dibanggakan. Kalau bukan dari kita sendiri yang mengangkat, siapa lagi?” ucapnya.
Ida menyebut, Batik Bulau Sayang berdiri sejak 2018, secara konsisten menghadirkan inovasi dalam desain dan filosofi motif. Motif terbaru ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam promosi budaya Suku Paser, sekaligus bukti bahwa warisan lokal mampu berdialog dengan tren masa kini.
Dengan karya seperti Mayang Asare Tupak, La Pasere Nanggar, Butik Bulau Sayang tidak hanya menjual kain, tapi juga memperkenalkan Paser kepada dunia lewat motif yang bercerita.
"Alhamdulillah, secara umum produk kami diterima masyarakat. Memang masih dipasarkan di dalam daerah. Harganya bervariasi, mulai dari sekitar Rp180 ribu sampai Rp2,5 juta, untuk batik sutra," imbuhnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo