KALTIMPOST.ID, Dalam sebuah tindakan kemanusiaan yang patut diapresiasi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial (Dissos) Penajam Paser Utara (PPU) bersama-sama mengurus pemakaman Windi Yulliani (46), seorang wanita asal Banyuwangi, Jawa Timur, yang meninggal dunia saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ratu Aji Putri Botung (RAPB) PPU.
Pemakaman tersebut dilaksanakan dengan penuh kepedulian di Pemakaman Covid-19, Nenang, Kecamatan Penajam, pada Senin (28/7) sekitar pukul 21.00 Wita.
Pemakaman ini merupakan wujud nyata dari komitmen pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan dan bantuan kemanusiaan, terutama bagi mereka yang berada dalam kondisi rentan dan tanpa sanak saudara di perantauan.
Menurut Kepala Pelaksana Harian BPBD PPU, Muhammad Sukadi Kuncoro, almarhumah Windi Yulliani dideteksi menderita sakit komplikasi berdasarkan keterangan dari pihak rumah sakit.
Baca Juga: Ada Apa dengan Operasi Antik Mahakam di PPU? Ini 4 Catatan Keras dari Polda Kaltim!
Windi diketahui tinggal di Girimukti, Kecamatan Penajam, ikut dengan warga setempat.
Awalnya, Windi menolak untuk dibawa ke rumah sakit oleh warga yang membawanya dari Banyuwangi, alasannya karena tidak memiliki biaya.
“Almarhumah sebelumnya dideteksi mengalami sakit komplikasi, dan ini kami dapatkan keterangannya dari rumah sakit. Dia sebelumnya tinggal di Girimukti, Kecamatan Penajam ikut orang, lalu mengeluh sakit,” jelas Muhammad Sukadi Kuncoro, Selasa (29/7).
Melihat kondisi Windi yang semakin memburuk dan ketidakmampuannya untuk berobat, Dissos PPU mengambil langkah cepat dengan menalangi biaya perawatannya di rumah sakit.
Berkat inisiatif ini, Windi akhirnya bersedia untuk dibawa dan mendapatkan penanganan medis yang diperlukan.
Baca Juga: Deteksi Dini Penyakit, Puskesmas Babulu Sasar Siswa dan Guru MAN PPU
Setelah Windi meninggal dunia, Dissos PPU segera menghubungi pihak keluarga di Banyuwangi untuk menginformasikan kabar duka dan membicarakan mengenai pemulangan jenazah.
Namun, pihak keluarga memutuskan untuk menyerahkan proses pemakaman kepada pemerintah daerah PPU.
“Dissos juga telah menghubungi keluarganya di Banyuwangi terkait pemulangan jenazah, namun diserahkan pemakamannya ke pemerintah, kemudian dilakukan pemakaman oleh BPBD dan Dissos, karena sudah ada komunikasi,” tambah Sukadi Kuncoro.
Atas dasar itulah, BPBD dan Dissos PPU berkolaborasi penuh dalam mengurus seluruh proses pemakaman, mulai dari persiapan hingga penguburan.
Baca Juga: Logo dan Tema Resmi Hari Bakti TNI AU 2025 yang Bikin Bangga Bangsa
Tindakan ini menunjukkan sinergi antarlembaga dalam menjalankan fungsi sosial dan kemanusiaan.
Muhammad Sukadi Kuncoro menegaskan bahwa pemakaman Windi Yulliani adalah bentuk murni dari bantuan kemanusiaan yang diberikan kepada warga Banyuwangi yang meninggal dunia di RSUD RAPB PPU dan tidak memiliki sanak saudara di wilayah tersebut.
“Salam tangguh, salam kemanusiaan dan salam kolaborasi,” pungkas Muhammad Sukadi Kuncoro, mengakhiri pernyataannya dengan semangat solidaritas dan kepedulian yang menjadi landasan bagi setiap upaya kemanusiaan yang dilakukan.
Kasus Windi Yulliani ini menjadi pengingat akan pentingnya jaringan pengaman sosial yang kuat dan responsif, memastikan bahwa setiap individu, terlepas dari latar belakang atau kondisi ekonominya, mendapatkan hak untuk penanganan yang layak, bahkan hingga akhir hayatnya. ***
Editor : Dwi Puspitarini