KALTIMPOST.ID, PENAJAM - Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memiliki kekayaan alam yang melimpah, termasuk berbagai jenis tumbuhan yang secara turun-temurun dimanfaatkan sebagai obat tradisional oleh masyarakat Suku Paser.
Restu Patih Bintang, seorang tokoh adat dari Lembaga Adat Paser (LAP) PPU, mengungkapkan bahwa kearifan lokal ini telah menjadi bagian dari pengobatan alami selama berabad-abad.
Walaupun demikian, ia menekankan bahwa penggunaan tumbuhan ini masih bersifat tradisional dan memerlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan efektivitas dan keamanannya secara ilmiah.
Kepada Kaltim Post, Senin (4/8), ia memaparkan sejumlah tumbuhan obat yang umum digunakan di PPU beserta manfaatnya berdasarkan penuturan tokoh adat, yaitu akar Bajakah. Tumbuhan ini menjadi salah satu yang paling terkenal.
Secara tradisional, akar bajakah dipercaya memiliki khasiat dalam mengobati kanker dan tumor. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa klaim ini belum didukung oleh penelitian klinis yang memadai, sehingga penggunaannya sebaiknya tetap dalam pengawasan ahli kesehatan.
Berikutnya, urai Restu Patih Bintang, pohon sungkai juga memiliki banyak manfaat. Daun sungkai sering digunakan untuk mengatasi masalah pencernaan seperti diare serta meredakan gatal-gatal pada kulit. Sementara itu, kulit batangnya dipercaya dapat membantu proses penyembuhan luka bakar.
“Kemudian ada Jemaring dan Tembong. Tumbuhan ini untuk mengatasi demam, masyarakat Suku Paser memiliki dua pilihan tumbuhan. Pucuk daun jemaring biasanya direbus, dan air rebusannya diminum. Cara serupa juga diterapkan pada akar tembong, di mana akarnya direndam dalam air hangat sebelum airnya diminum,” jelasnya.
Beberapa tumbuhan lainnya, lanjutnya, juga digunakan untuk masalah kulit dan pencernaan. Kulit batang melipos yang sudah diparut sering ditempelkan pada wajah untuk mengobati jerawat. Sementara itu, lesat dipercaya dapat meredakan gatal-gatal. Untuk mengatasi diare, umbut (batang muda) dendek dapat dimakan secara langsung.
Selain itu, terdapat juga tumbuhan seperti kratom dan teh tahongai. Daun kratom memiliki potensi manfaat, namun juga membawa risiko yang perlu diteliti lebih dalam. Sementara itu, teh tahongai diklaim memiliki khasiat untuk melawan diabetes dan kerusakan hati. Kedua tumbuhan ini, seperti yang lainnya, masih memerlukan kajian ilmiah lebih lanjut untuk memastikan keefektifannya.
Ditegaskannya, kearifan lokal ini sebagian besar telah dibukukannya, dan rencananya dicetak khusus menjadi sebuah buku kesehatan. Dia mengatakan, dalam memanfaatkan tumbuhan sebagai obat tradisional adalah warisan budaya yang berharga. Namun, penting untuk selalu mengedepankan pendekatan yang bijak dan berhati-hati.
Sebagaimana yang ditekankan oleh Restu Patih Bintang, penelitian ilmiah menjadi kunci untuk membuka potensi penuh dari tumbuhan obat ini dan memastikan penggunaannya aman serta efektif bagi kesehatan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo