Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kasus Malaria di PPU Turun Drastis, Diskes Targetkan Tahap Eliminasi Tahun Depan

Ahmad Maki • Rabu, 24 September 2025 | 18:13 WIB
Pejabat Fungsional Pengelola Penanggulangan Demam Berdarah dan Malaria Diskes PPU, Harjito Ponco Waluyo.
Pejabat Fungsional Pengelola Penanggulangan Demam Berdarah dan Malaria Diskes PPU, Harjito Ponco Waluyo.

KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Upaya intervensi yang gencar dilakukan Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) berbuah hasil signifikan. Kasus malaria di wilayah ini tercatat menurun drastis sepanjang 2025.

Pejabat Fungsional Pengelola Penanggulangan Demam Berdarah dan Malaria, Diskes PPU, Harjito Ponco Waluyo, mengungkapkan hingga September 2025 jumlah kasus malaria hanya 137. Angka ini anjlok jauh dibandingkan 2024 yang mencapai 558 kasus.

“Kasus malaria tahun ini turun drastis. Annual Parasite Incidence (API) kita saat ini di posisi 0,68. Harapan kami sampai akhir 2025 bisa ditekan di bawah satu per 1.000 penduduk,” jelas Harjito, Rabu (24/9/2025).

Ia menjelaskan, kasus tersebar di beberapa fasilitas kesehatan. “Di rumah sakit Sepaku ada 21 kasus, di Puskesmas Petung 10 kasus, sementara puskesmas lain hanya satu atau dua kasus, bahkan ada yang tidak menerima kasus sama sekali,” tambahnya.

Menurut Harjito, capaian ini tidak terlepas dari berbagai intervensi yang dilakukan Diskes PPU, mulai dari pelatihan kader malaria, survei migrasi, hingga pemberian kelambu massal fokus (PKMF).

Sebanyak 64.500 kelambu akan dibagikan di wilayah rawan, seperti Kecamatan Sepaku, Kelurahan Sotek, hingga kawasan Penajam Seberang seperti Jenebora, Pantai Lango dan Gersik, yang dekat dengan aktivitas pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Selain itu, pemberian kemoprevensi juga dilakukan di lima lokasi endemis, yakni RT 16 Sotek, Kelurahan Riko, Bukit Subur di Kecamatan Waru, serta Wonosari yang berbatasan dengan Bukit Bangkirai.

“Harapannya dengan kemoprevensi ini parasit malaria di tubuh manusia bisa hilang,” terang Harjito.

Intervensi lingkungan turut digencarkan, seperti penaburan larvasida di genangan air hingga penangkapan nyamuk Anopheles. Hasil survei menunjukkan wilayah IKN masih menjadi area dengan kepadatan nyamuk cukup tinggi.

“Dalam satu malam kami mendapatkan 86 nyamuk malaria di IKN, sementara di wilayah penyangga hanya dua ekor, bahkan di area PT IHM tidak ditemukan,” paparnya.

Sebagai langkah antisipasi, larvasida telah ditebar di wilayah berisiko, dan penaburan ikan papuyu di Embung Basuki Hadimuljono (BHM) juga dilakukan untuk menekan populasi jentik nyamuk.

Harjito menambahkan, keberadaan kader malaria juga menjadi kunci pengendalian. Saat ini terdapat 29 kader aktif yang memiliki legalitas untuk melakukan pemeriksaan cepat, mengidentifikasi gejala, hingga memberikan pengobatan kasus ringan.

“Kalau kader ragu menghadapi kasus berat, mereka bisa langsung konsultasi dengan dokter melalui grup khusus,” jelasnya.

Dengan capaian API yang sudah rendah, SPR (Slide Positif Rate) di bawah 5 persen, serta target nihil kasus indigenous, Harjito optimistis PPU dapat memulai tahap eliminasi malaria pada 2026.

“Syarat eliminasi sudah kita kejar. Tinggal menjaga agar tidak ada kasus penularan setempat,” pungkasnya. (*)

 

Editor : Ismet Rifani
#Diskes PPU #Harjito Ponco Waluyo #kasus malaria turun