KALTIMPOST.ID, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim berhasil membuka kembali akses jalan yang menghubungkan Sotek, Kecamatan Penajam, Penajam Paser Utara (PPU) dan Bongan (Kutai Barat/Kubar).
Ruas jalan sepanjang 105 kilometer ini, yang kondisinya sebagian besar masih berupa agregat dan tanah, telah lama terbengkalai dan tertutup belukar.
Gubernur Kaltim, Rudy Mas'ud, yang akrab disapa Harum, menyatakan kegembiraannya atas keberhasilan pembukaan jalur ini setelah sekian tahun tidak terawat.
Saat berada di Km 69 jalur tersebut, Gubernur Harum mengungkapkan rasa syukur. “Syukur, alhamdulillah, hari ini kita sukses menembus kembali jalur Sotek-Bongan. Jika kelak telah diperbaiki, perjalanan antara Bongan-Sotek diperkirakan hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam,” kata Rudy Mas’ud.
Nasrun, warga Penajam, PPU sekaligus pemerhati masalah-masalah ekonomi lokal, menyambut baik dan optimistis terhadap terbukanya kembali jalur Sotek-Bongan ini.
Menurutnya, koneksi ini akan membawa dampak ekonomi yang sangat signifikan, terutama bagi masyarakat di sekitar PPU.
“Jalur Sotek-Bongan ini bukan hanya sekadar jalan, tapi pembuluh nadi baru ekonomi bagi PPU dan Kalimantan Timur secara keseluruhan,” kata Nasrun, Senin (20/10).
Nasrun menyoroti bahwa dampak paling cepat terasa adalah pada sektor logistik. Sebelum jalur ini terbuka, barang dari Kubar atau yang akan menuju Kubar harus memutar jauh melalui rute Balikpapan atau Samarinda.
“Bayangkan, penghematan waktu dan biaya yang diklaim gubernur hingga 80 persen itu sangat realistis. Ini berarti biaya operasional angkutan logistik turun drastis,” jelasnya.
“Ujung-ujungnya, kami berharap ini bisa menekan harga-harga kebutuhan pokok di PPU, karena biaya transportasinya jadi lebih murah dan efisien,” tambah apoteker di PPU ini.
Nasrun selanjutnya mengatakan, sebagai lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN), PPU akan menjadi titik sentral. Terbukanya jalur ini akan memperkuat posisi PPU sebagai gerbang logistik dan transit yang sangat vital.
“Jalur ini menghubungkan kawasan pendukung IKN seperti Kubar, Mahakam Ulu, bahkan Kalteng dan Kaltara, langsung ke kawasan inti IKN melalui Sotek. Ini membuat PPU otomatis menjadi hub utama pergerakan barang dan manusia,” kata Nasrun.
Ia menambahkan bahwa hal ini akan memacu pertumbuhan bisnis jasa, warung, penginapan, dan bengkel di sepanjang jalur PPU, khususnya di Sotek dan sekitarnya.
Secara khusus, Nasrun berharap Pemprov Kaltim dan Pemkab PPU dapat memanfaatkan momentum ini untuk mendorong produk-produk lokal PPU agar lebih mudah didistribusikan ke wilayah pedalaman dan sebaliknya.
“Ini kesempatan emas bagi petani dan UMKM di PPU. Produk kita bisa lebih cepat sampai ke Bongan dan sekitarnya. Jangan sampai yang lewat hanya logistik besar, tapi ekonomi kerakyatan juga harus ikut terangkat,” tegasnya.
Nasrun menekankan bahwa saat ini kondisi jalan masih berupa agregat dan tanah, sehingga percepatan penyelesaian pembangunan menjadi kunci.
“Kami sangat mendukung usulan menjadikannya jalan nasional. Sekarang tantangannya adalah bagaimana Pemprov Kaltim bisa menjamin pembangunan awal sebesar Rp 20 miliar segera terealisasi dan terus didukung APBN. Masyarakat PPU berharap, jalur ini benar-benar mulus di 2026, bukan hanya janji,” tutup Nasrun.
Sementara sebelumnya, menurut Gubernur Harum, jalan yang melintasi empat kabupaten (PPU, Kutai Kartanegara/Kukar, Paser, dan Kubar) ini memiliki peranan yang amat penting. Jalur ini akan sangat mempermudah proses penyaluran logistik dan bahan bakar.
Gubernur Harum meyakini, jika kondisi jalan sudah mulus, dapat tercipta penghematan waktu dan biaya hingga 80 persen.
Gubernur menjelaskan bahwa rute dari Kutai Barat menuju Ibu Kota Nusantara (IKN) yang harus melalui Kutai Kartanegara, Samarinda, dan Balikpapan memiliki jarak tempuh sekitar 500 kilometer.
“Melalui jalur yang baru ini, jaraknya hanya sekitar 100 km lebih sedikit. Ini berarti kita dapat menghemat waktu dan biaya sekitar 80 persen,” jelas Gubernur.
“Yang paling penting, akses untuk distribusi logistik dan penumpang akan jauh lebih mudah. Biaya angkut logistik sudah pasti akan lebih murah,” tambahnya dengan optimistis.
Selain itu, jalur Sotek-Bongan sangat strategis karena menghubungkan Kubar dan Mahakam Ulu (Mahulu) langsung ke IKN.
Jalan ini juga akan memudahkan akses Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Utara menuju Ibu Kota Nusantara.
Gubernur Harum memohon doa kepada seluruh warga Kaltim agar jalur ini dapat segera tersambung dan berfungsi dengan baik.
Gubernur juga menegaskan bahwa dibukanya akses Sotek-Bongan ini merupakan langkah penting yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan bernilai tinggi di masa depan.
Kepala Dinas PUPR Pera Kaltim, Aji Muhammad Fitra Firnanda (Nanda), menerangkan bahwa jalur ini merupakan jalan yang belum memiliki status resmi (nonstatus).
Setelah rampung ditangani, pihaknya akan mengusulkannya menjadi jalan nasional.
Sebelumnya, Gubernur Harum telah menginstruksikan Dinas PUPR untuk segera membersihkan dan membuka akses jalan sepanjang 35 km (dari STA-53 hingga STA-88) yang tertutup hutan.
Editor : Hernawati