PENAJAM – Di tengah kebijakan efisiensi anggaran secara nasional, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) justru melaju dengan pendekatan berbeda. Lewat strategi “Mudyatomics”, Bupati Mudyat Noor mendorong pembangunan berbasis kemandirian, efisiensi cerdas, dan penguatan ekonomi rakyat.
Salah satu implementasi nyatanya adalah peluncuran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Mandiri, yang menyasar anak-anak usia dini dan pelajar sebagai bagian dari penguatan sumber daya manusia sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
“Inilah cara kami melengkapi kebijakan nasional dengan pendekatan daerah. Kita tidak menunggu bantuan, tapi bergerak mandiri,” ujar Bupati Mudyat Noor, Rabu (22/10/2025).
Program ini berjalan secara mandiri menggunakan APBD, dengan melibatkan Dinas Kesehatan, Dikpora, komite sekolah, dan kantin sekolah. Selama 28 hari masa uji coba, MBG Mandiri menyuplai makanan bergizi yang disiapkan langsung di sekolah-sekolah.
Tak hanya soal gizi, program ini berdampak langsung pada perekonomian warga. “Uang yang berputar tidak lari ke kontraktor besar, tapi ke warung kecil, pasar lokal, dan dapur masyarakat,” jelas Mudyat Noor.
Setiap porsi makanan disubsidi Rp12.000, terdiri dari Rp10.000 untuk bahan makanan bergizi dan Rp2.000 untuk pajak. Bahan pangan diperoleh dari pasar lokal, dan dapur sekolah menjadi pusat produksi.
Program MBG Mandiri saat ini menjangkau 157 PAUD/TK, 108 SD, dan 36 SMP di empat kecamatan: Penajam, Waru, Babulu, dan Sepaku. Dari jumlah tersebut, 27 sekolah sudah mendapatkan dukungan dari Badan Gizi Nasional (BGN), sedangkan sisanya dikelola secara mandiri oleh Pemkab PPU.
Komite sekolah bertanggung jawab atas pengadaan bahan baku dari pasar sekitar, sedangkan kantin sekolah menjadi titik distribusi makanan bergizi kepada siswa. Hasilnya, petani kembali aktif, pasar rakyat menggeliat, dan dapur sekolah hidup dengan semangat gotong royong.
“Pembangunan tidak harus dimulai dari proyek besar. Cukup dari piring anak-anak sekolah. Kalau gizi dan semangat mereka tumbuh, maka masa depan daerah ikut tumbuh,” ucap Mudyat Noor.
Baca Juga: Realisasi Pajak PPU Capai 65 Persen di Triwulan III, Sektor Makan Minum Tembus 120 Persen
Program ini sejalan dengan prioritas nasional dalam RKP 2025, terutama pada poin penguatan SDM dan pembangunan dari bawah. Dengan komunikasi aktif ke kementerian seperti Kemenkeu, Kemendikbudristek, dan Kemenkes, PPU memastikan program tetap selaras dengan arah pusat tanpa kehilangan karakter lokal.
Bagi warga, keberhasilan ini dikenal sebagai “Mudyatomics Effect” ekonomi rakyat bergerak, anak-anak tumbuh sehat, dan kepercayaan terhadap pembangunan lokal kembali menguat.
“Inilah semangat Benuo Taka, mandiri, tangguh, dan terus berinovasi. Mudyatomics membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang, tapi pintu menuju kemandirian,” imbuhnya. (*)
Editor : Muhammad Rizki