Sistem peringatan dini ini dirancang untuk memantau gelombang tinggi dan mendeteksi potensi tsunami secara waktu nyata (real time).
Kepala BMKG Kota Balikpapan, Kukuh Rubiyanto, menjelaskan bahwa pemasangan HF Radar ini akan menjadi bagian dari jaringan yang lebih luas.
Radar tersebut direncanakan dipasang di tiga titik strategis yang saling melengkapi (overlap) untuk memastikan keakuratan data, yakni di PPU, Kutai Kartanegara (Kukar), dan Samboja.
Keterangan yang berhasil dihimpun menyebutkan, sistem peringatan ini akan terintegrasi dan datanya dapat dilihat oleh masyarakat secara daring melalui aplikasi Indonesia Tsunami Early Warning System (Ina-TEWS).
Sebelumnya, sistem serupa sudah diterapkan di beberapa wilayah rawan seperti Selat Sunda, Selat Banyuwangi, dan Bali.
Selain sebagai langkah kesiapsiagaan kebencanaan, pemasangan radar juga diharapkan dapat mendukung aktivitas nelayan di sekitar perairan PPU. Nelayan dapat memantau kondisi gelombang laut sebelum memutuskan untuk melaut.
Saat ini, BMKG sedang melakukan survei lokasi untuk penempatan alat radar dan telah meminta dukungan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) PPU, terutama terkait penyediaan lahan yang memungkinkan.
Upaya mitigasi ini semakin diperkuat mengingat wilayah pesisir PPU masuk dalam kategori potensi ancaman tsunami waspada, yang menjadi perhatian dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) PPU.
Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, Muhammad Sukadi Kuncoro membenarkan rencana ini.
“Untuk pembangunannya di PPU mengambil tempat di Pantai Apiapi, Kecamatan Waru, PPU pada tahun 2026,” kata Muhammad Sukadi Kuncoro, Rabu (29/10). Ia menekankan, apabila sudah dibangun maka peralatan penting tersebut perlu dijaga dengan melibatkan keterlibatan masyarakat.(*)
Editor : Thomas Priyandoko