Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

LAP PPU Harap Pemerintah Peduli Budaya dan Selesaikan Pembangunan Rumah Adat Kuta Rekan Tatau

Ahmad Maki • Senin, 3 November 2025 | 18:16 WIB

Ketua LAP PPU, Musa (tengah).
Ketua LAP PPU, Musa (tengah).

PENAJAM — Ketua Lembaga Adat Paser (LAP) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Musa, berharap agar perhatian pemerintah terhadap pelestarian budaya daerah semakin meningkat. Hal itu disampaikannya saat menghadiri Opening Ceremony Festival Belian Adat Paser Nondoi Tahun 2025 yang digelar di Rumah Adat Kuta Rekan Tatau, Senin (3/11/2025).

Musa mengatakan, Festival Belian Nondoi merupakan agenda tahunan yang digagas bersama antara pemerintah daerah dan Lembaga Adat Paser serta dengan sokongan dari jajaran Ekonomi Kreatif (Ekraf) PPU.

Kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi seluruh suku dan paguyuban yang ada di PPU. “Festival ini menjadi ajang silaturahmi semua suku dan paguyuban di PPU. Setiap kelompok menampilkan budaya masing-masing, dan harapan kami ke depan acaranya bisa lebih meriah lagi dan lebih diperhatikan,” ujar Musa.

Namun demikian, ia mengakui tahun ini belum semua kesenian dapat ditampilkan karena keterbatasan anggaran. “Memang ada beberapa suku yang tidak bisa tampil karena terkait efisiensi anggaran. Ke depan kami berharap pemerintah, khususnya Bupati dan DPRD, bisa lebih peduli terhadap kebudayaan di PPU. Masyarakat kita ini sangat heterogen, banyak suku dengan beragam budaya yang perlu ditampilkan dalam agenda seperti ini,” tambahnya.

Baca Juga: Cabai Merah di PPU Anjlok 27 Persen, Disketapang Sebut Waktunya Ibu-ibu Hemat!  

Selain itu, Musa juga menyoroti lambannya penyelesaian pembangunan Rumah Adat Kuta Rekan Tatau yang menjadi pusat kegiatan budaya di PPU. Ia menilai perlu adanya keseriusan dari pemerintah daerah untuk menuntaskan pembangunan tersebut.

“Kadang tamu dari luar menanyakan kenapa rumah adat ini belum selesai. Saat ini posisinya baru sampai kaki lima, badan bangunannya belum. Padahal lahannya sudah dua hektar. Mungkin butuh sekitar Rp20 miliar sampai Rp25 miliar lagi untuk menyelesaikan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Musa juga menjelaskan makna upacara adat Nondoi bagi masyarakat Paser. Menurutnya, Nondoi merupakan bentuk rasa syukur yang dilakukan setelah panen padi atau pembukaan lahan baru.

Baca Juga: Pembangunan Rumah Singgah ODGJ di PPU Capai 25 Persen, Rampung Desember

“Nondoi ini semacam ucapan syukur kepada leluhur dan Tuhan. Biasanya sebelum ritual, kami melakukan selamatan terlebih dahulu sebagai ungkapan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa, kemudian disampaikan lewat bahasa ritual adat,” terangnya.

Festival Belian Adat Paser Nondoi Tahun 2025 dibuka secara resmi oleh Bupati PPU, Mudyat Noor. Hadir pula dalam acara tersebut Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Timur, Ririn Sari Dewi, Wakil Bupati PPU, Abdul Waris Muin, dan Ketua DPRD PPU, Raup Muin. (*/riz)

Editor : Muhammad Rizki
#lembaga adat paser #Penajam Paser Utara (PPU)