KALTIMPOST.ID,PENAJAM - PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) beberapa hari lalu menutup metering pada perusahaan minyak dan gas (migas) PT Benuo Taka Wailawi (BTW) di Kelurahan Nenang, Kecamatan Penajam, Penajam Paser Utara (PPU).
Penutupan metering dengan cara mengunci memakai rantai itu di tengah isu yang merebak, bahwa pengelola perusahaan ini belum memenuhi kewajiban biaya kontrak.
“Penutupan metering dengan rantai itu karena sebelumnya tersambar petir,” kata Etna, staf Humas PT PHKT saat menerima konfirmasi terkait dengan hal tersebut. Saat ini, katanya, PHKT sedang melakukan perbaikan. Namun, tidak dijelaskan sampai kapan rampungnya perbaikan alat dimaksud. Kalau ada perkembangan terbaru, update -nya saya beritahukan, tambahnya.
Sejumlah sumber media diperoleh ini pada pukul 18.00 Wita, Sabtu (31/10), v alve close metering sistem sudah dilakukan penerimaan dengan rantai dan disaksikan oleh pihak PHKT dan BTW. Kedua pihak sejauh ini disebut-sebut terkait kontrak kerja sama.
“Metering itu ditutup atau dikunci karena diduga belum ada pembayaran kontrak dari pihak perusahaan BTW,” kata sumber.
Saat hal ini dikonfirmasikan, Etna secara tegas membantah. “Oh, tidak benar,” sambil menegaskan bahwa penutupan meteran tersebut mengakibatkan faktor peralatan tersebut menonaktifkan petir, sehingga berbahaya jika dioperasikan.
Sementara itu, Direktur Utama PT BTW, Zaenul Arifin belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi mengenai isu yang merebak ini Rabu (5/11). Konfirmasi pesan yang dikirim ke platform pesanan WhatsApp (WA) sekira pukul 11.30 Wita itu belum direspons.
PT BTW, perusahaan migas kebanggaan PPU yang dibentuk pada tahun 2012, untuk kali pertama dalam sejarahnya melakukan perombakan manajemen secara menyeluruh pada medio 2025 lalu. Keputusan strategi ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham ( RUPS ) yang digelar di Hotel Novotel Balikpapan pada Senin, 16 Juni 2025, dan menjadi sinyal kuat penguatan sektor migas di wilayah tersebut.
Perubahan signifikan ini didesak oleh Perusahaan Umum Daerah ( Perumda ) Benuo Taka (PBT) PPU, yang bertindak sebagai pemegang saham mayoritas dengan porsi 51 persen. Dalam RUPS tersebut, Pitono, yang sehari-hari menjabat kepala Bagian Hukum, Setkab PPU, resmi menggantikan Taufik sebagai komisaris BTW.
Baca Juga: Dirut PT BTW PPU Tegaskan Penutupan Metering Dampak Sambaran Petir
Sementara itu, ketua direktur utama yang semula dijabat Indra Riswanto, kini dijabat oleh Zaenul Arifin, seorang sarjana perminyakan yang diharapkan membawa angin segar bagi perusahaan.
Editor : Uways Alqadrie