Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

PPU Perkuat Strategi Pengendalian DBD Lewat Vaksinasi dan Edukasi Terpadu

Ahmad Maki • Jumat, 12 Desember 2025 | 21:00 WIB

Abdul Waris Muin memberikan arahan terkait penanganan DBD daerah.
Abdul Waris Muin memberikan arahan terkait penanganan DBD daerah.

PENAJAM — Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menegaskan fokus baru dalam strategi pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan menekankan pentingnya vaksinasi sebagai perlindungan tambahan.

Hal itu disampaikan Wakil Bupati PPU, Abdul Waris Muin, saat membuka Kegiatan Advokasi dan Sosialisasi Vaksin DBD di Aula Lantai 3 Kantor Bupati, Kamis (11/12/2025).

Waris Muin menilai kasus DBD tetap menjadi ancaman serius sehingga upaya pengendalian harus dilakukan secara menyeluruh. Ia menyebut pemberantasan sarang nyamuk, edukasi masyarakat, peningkatan pelayanan kesehatan, hingga pemanfaatan vaksin harus berjalan beriringan.

“Kita ingin memastikan bahwa masyarakat memperoleh informasi yang benar dan memahami manfaat vaksinasi DBD,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada dukungan fasilitas kesehatan, tenaga medis, pemerintah daerah, sekolah, serta orang tua.

Baca Juga: Bupati PPU Buka Kejurnas Pickleball Championship 2025 di Dome Anden Oko

Waris Muin juga meminta semua sektor memperkuat koordinasi untuk meningkatkan cakupan vaksin dan mencegah munculnya keraguan di tengah masyarakat.

“Mari kita pastikan edukasi tersampaikan dengan tepat, sehingga langkah pencegahan dapat berjalan lebih efektif,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Seksi P2P Dinkes Kaltim, dr Ivan Hariyadi, menyampaikan bahwa PPU menerima 1.500 dosis vaksin DBD pada tahun ini. Sasaran utamanya adalah anak usia sekolah, yang tercatat paling banyak terdampak di wilayah Penajam, Waru, Petung, dan Babulu.

Baca Juga: PPU Petakan Aset Jalan untuk Segera Diserahkan ke OIKN

Ia menjelaskan bahwa vaksin ini telah direkomendasikan BPOM dan Ikatan Dokter Anak Indonesia dengan rentang usia penerima mulai 6 tahun hingga dewasa.

“Berdasarkan pengalaman di Balikpapan dan Kutai Kartanegara, efek samping yang muncul sifatnya ringan, biasanya hanya rasa nyeri di tempat suntikan,” kata Ivan.

Ia juga menyebut vaksinasi akan dilaksanakan melalui sekolah untuk mempermudah jangkauan dan pendataan. “Kami berharap sekolah dapat berperan aktif menyampaikan informasi kepada orang tua agar tidak terjadi kesalahpahaman dan proses vaksinasi berjalan lancar,” ujarnya. (*/riz)

Editor : Muhammad Rizki
#demam berdarah #Penajam Paser Utara (PPU) #Abdul Waris Muin #dbd