KALTIMPOST.ID, PENAJAM — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Penajam Paser Utara (PPU) tengah melakukan identifikasi aset wilayah laut yang secara kewenangan berada di bawah Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Khususnya area pelabuhan penyeberangan Penajam.
Sekretaris Daerah (Sekda) PPU, Tohar, menindaklanjuti pembicaraan antara Bupati PPU Mudyat Noor dan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud.
Tohar menjelaskan, proses yang dilakukan saat ini masih sebatas penanganan administrasi aset. Setelah identifikasi dan penataan administrasi selesai, aset tersebut akan diserahkan kepada Pemprov Kaltim.
“Kewenangan itu sebenarnya ada di provinsi. Jadi yang kami lakukan adalah mengidentifikasi aset yang ada, kemudian di-treatment secara administrasi, setelah itu diserahkan ke provinsi,” ujar Tohar, Selasa (30/12/2025).
Ia menambahkan, kondisi fiskal yang terbatas tidak hanya dialami PPU, tetapi juga Pemprov Kaltim. Karena itu, pembahasan tersebut masih bersifat awal dan berasal dari komunikasi antar kepala daerah.
“Ini aslinya dari pembicaraan antara gubernur dan bupati. Belum masuk ke pembicaraan yang terstruktur menjadi bahasa program,” jelasnya.
Terkait isu pendataan warga pesisir yang disebut-sebut akan dimulai pada 2026, Tohar menegaskan belum ada keputusan resmi, baik terkait relokasi maupun penataan kawasan antara permukiman dan pelabuhan.
“Belum ada program yang tercetus. Ini masih diskusi-diskusi liar saja,” katanya.
Namun demikian, Tohar mengungkapkan adanya mimpi besar pemerintah daerah sejak awal berdirinya Kabupaten PPU, yakni menata kawasan pesisir sebagai wajah Kabupaten.
Ia mencontohkan kawasan dari Pelabuhan Ferry hingga tembus ke coastal road yang dibayangkan menjadi kawasan tertata rapi.
“Kalau kita anggap itu sebagai wajah Penajam, alangkah baiknya ditata dengan baik supaya (pemukiman warga) tidak semakin menjorok ke laut,” ujarnya.
Menurutnya, konsep penataan pesisir ideal adalah menjadikan jalan berada di sisi pantai, kemudian permukiman dibangun menghadap ke laut, bukan membelakanginya. Dengan konsep tersebut, ia meyakini kebersihan kawasan akan lebih terjaga.
“Kalau rumah menghadap ke laut, tidak mungkin orang buang sampah di depan rumahnya sendiri. Ini soal perubahan perilaku juga,” jelas Tohar.
Ia menyebut, gagasan tersebut sebenarnya sudah pernah masuk dalam perencanaan awal kabupaten, bahkan sejak masa kepemimpinan Bupati PPU Yusran Aspar. Salah satu gagasan besarnya adalah pembangunan jalan lingkar luar dari dermaga ferry hingga coastal road.
“Itu mimpi besar kita, menjadikan kawasan pesisir sebagai wajah Penajam. Tapi sampai sekarang itu baru sebatas angan-angan dan diskusi, belum menjadi program resmi,” pungkasnya. (*)
Editor : Duito Susanto