PENAJAM – Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pajak sarang burung walet di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalami penurunan signifikan dalam dua tahun terakhir. Kondisi ini dipengaruhi turunnya harga jual sekaligus berkurangnya produksi sarang walet di lapangan.
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) PPU, Hadi Saputro mengungkapkan, bahwa lesunya sektor walet sangat dirasakan para pelaku usaha.
“Coba nanti cari yang temannya yang punya walet, tanyain saja. Menangis harganya, Pak. Bukan saja menangis harganya, karena sarang burung itu juga berkurang,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).
Menurut Hadi, pihaknya telah melakukan pengecekan langsung ke lapangan bersama BPK pada tahun lalu untuk memastikan kondisi usaha walet. Dari hasil peninjauan tersebut, memang ditemukan penurunan produksi yang cukup drastis.
“Kami kemarin tahun lalu itu sudah bersama BPK langsung cek di lapangan. Jadi memang burungnya ya cuma bunyi, tapi sarangnya tidak banyak,” katanya.
Sementara itu, dari data Bapenda PPU mencatat, capaian PAD dari pajak sarang burung walet pada 2024 hanya mencapai 53 persen atau sebesar Rp 14.350.000 dari target Rp 27.000.000. Sementara itu, pada 2025 realisasinya menunjukkan lebih rendah, yakni 32 persen atau setara Rp 8.728.000 dari target yang sama, Rp 27.000.000.
Penurunan ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah, mengingat pajak sarang burung walet selama ini menjadi salah satu sumber PAD sektor pajak daerah.
"Kita tetap berharap kondisi pasar dan produksi walet dapat kembali stabil agar kontribusi terhadap PAD bisa meningkat di tahun-tahun mendatang," imbuhnya. (*)
Editor : Sukri Sikki