KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polres Penajam Paser Utara (PPU) memastikan program pemenuhan gizi bagi pelajar tetap berjalan selama Ramadan.
Namun, menu yang diberikan menyesuaikan kondisi puasa dengan menyajikan makanan kering yang praktis dikonsumsi saat berbuka.
Kepala SPPG Polres PPU, Yoggi Adjie mengatakan, distribusi makanan tetap dilakukan setiap hari kepada penerima manfaat di sekolah-sekolah yang telah terdaftar. Hingga saat ini, jumlah produksi paket makanan mencapai sekitar 1.189 porsi per hari.
“Selama Ramadan ini menunya makanan kering semua. Biasanya terdiri dari roti, susu, keripik tempe, dan beberapa menu lain. Kalau detail menunya sebenarnya ada di Instagram, karena setiap hari bisa berbeda,” ujar Yoggi, Kamis (5/3/2026).
Ia menjelaskan, skema distribusi makanan dilakukan setiap hari dan tidak dirapel, kecuali pada hari tertentu yang berdekatan dengan hari libur sekolah. Misalnya pada hari Jumat, distribusi bisa dirapel untuk kebutuhan hari Sabtu yang merupakan hari libur.
“Kalau dari SPPG Polres sendiri distribusinya per hari, tidak dirapel. Kecuali kalau hari Jumat karena Sabtu libur, baru kita rapel,” jelasnya.
Yoggi juga menyebutkan bahwa sekolah sebenarnya memiliki kesempatan untuk mengajukan permintaan khusus, seperti kegiatan buka puasa bersama. Jika ada permintaan tersebut, pihak SPPG siap menyesuaikan waktu distribusi dengan mengantarkan makanan menjelang waktu berbuka.
“Kalau ada sekolah yang ingin mengadakan buka bersama, bisa saja. Nanti kami antar sore menjelang berbuka. Tapi sampai sekarang belum ada sekolah yang mengajukan permintaan seperti itu,” katanya.
Terkait kualitas bahan makanan, Yoggi mengakui sempat menemukan kendala kecil pada salah satu bahan, yakni telur yang terasa lengket. Namun menurutnya kondisi tersebut bukan karena telur busuk, melainkan telur yang masih baru dari kandang.
“Telurnya bukan busuk, cuma kadang lengket karena telur baru dari kandang. Tapi tetap kami evaluasi dengan supplier dan mencari opsi lain, misalnya diganti dengan telur puyuh,” ujarnya.
Selain itu, ia menegaskan bahwa nilai gizi dari paket makanan telah diperhitungkan oleh tenaga ahli gizi yang terlibat dalam program tersebut. “Kalau soal nilai gizi sudah dipastikan, karena ada ahli gizi yang menangani itu,” tambahnya.
Dalam pelaksanaannya, Yoggi juga mengungkapkan masih ada sebagian orang tua siswa yang belum memahami detail anggaran program tersebut. Banyak yang mengira nilai paket makanan mencapai Rp15.000 per porsi, padahal anggaran yang digunakan sebesar Rp10.000 untuk porsi besar dan Rp8.000 untuk porsi kecil.
“Awalnya ada beberapa orang tua yang komplain karena mereka kira anggarannya Rp15.000. Tapi setelah kami jelaskan, mereka akhirnya paham,” jelasnya.
Selama Ramadan, program ini tetap berjalan hingga mendekati libur sekolah menjelang Idulfitri. Distribusi makanan direncanakan berhenti sementara saat anak-anak mulai libur sekolah dan akan kembali berjalan saat kegiatan belajar mengajar di sekolah dimulai lagi.
Ke depan, SPPG Polres PPU juga berencana memperluas penerima manfaat program, tidak hanya bagi pelajar, tetapi juga kelompok lain yang membutuhkan. “Rencana ke depan setelah Lebaran kami akan menambah penerima manfaat, khususnya untuk kelompok 3B seperti balita dan ibu hamil,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo