KALTIMPOST.ID,PENAJAM-Di balik paras tenangnya, Tsabitah Nukhbi Fauqillah menyimpan nyali baja. Putri sulung dari pasangan Dr. Wakidi, MA dan Ratna Dewi, SH, MKn asal Penajam, Penajam Paser Utara (PPU) ini, kini tengah menempuh pendidikan di semester akhir Fakultas Syariah, University of Jordan. Namun, kesehariannya bukan sekadar berkutat dengan kitab dan perkuliahan.
Tsabitah adalah saksi hidup sekaligus aktor kemanusiaan di tengah bara konflik Timur Tengah. Di sela kesibukan akademiknya, ia aktif di Tim Peduli Palestina, sebuah lembaga charity Indonesia di Yordania yang bekerja sama dengan berbagai NGO internasional untuk menyalurkan bantuan bagi pengungsi Palestina.
Misi Berbahaya, Airdrop Gaza hingga Sertifikat Kemenhan
Dedikasi Tsabitah melampaui batas ruang kelas. Ia bergabung dengan Satgas Merah Putih II, sebuah misi kemanusiaan yang menggunakan metode airdrop (penerjunan bantuan dari udara) untuk menjangkau warga Gaza, Palestina, yang terisolasi.
Keberaniannya mengelola dan menyalurkan bantuan di zona merah ini berbuah apresiasi tinggi. Pekan lalu, Tsabitah dan rekan-rekan di Tim Peduli dianugerahi medali serta sertifikat penghargaan dari Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI atas dedikasi luar biasa mereka dalam misi kemanusiaan di Gaza.
Tak hanya untuk Palestina, Tsabitah juga menjadi jembatan kebaikan warga Yordania bagi Indonesia. Pada 22 Januari lalu, ia diterjunkan langsung untuk menyalurkan bantuan bencana ke Aceh yang berasal dari donasi warga Yordania. Setelah misi itu tuntas, ia kembali ke Yordania pada 27 Februari 2026.
Kuliah di Bawah Bayang-Bayang Rudal
Ketegangan geopolitik antara AS, Israel, Iran, dan konflik Gaza menjadi bumbu keseharian yang mendebarkan bagi Tsabitah. Saat mendarat kembali di Yordania akhir Februari lalu, ia disambut suara sirine tanda serangan Israel ke Iran.
Bahkan, sebuah rudal dilaporkan jatuh hanya berjarak 10 menit dari tempat kontrakannya. Meski KBRI terus memberikan imbauan waspada, semangatnya tak surut. "Perkuliahan masih terus berjalan meski kondisi tidak menentu. Kami tetap memantau perkembangan terkini sesuai arahan Kedubes," kata Tsabitah dalam satu kesempatan.
Di sana, ia juga sering menjadi pendamping sekaligus penerjemah bagi tamu-tamu dari Tanah Air yang datang dalam misi diplomatik maupun kemanusiaan.
Harapan Menjelang Kelulusan
Kini, Tsabitah sedang menghitung hari. Jika tak ada aral melintang, bulan Mei mendatang ia akan merampungkan studi S1-nya di Fakultas Syariah. Sang ayah, Dr. Wakidi, bersama keluarga besar di Penajam hanya bisa melangitkan doa agar putri kebanggaan mereka senantiasa dalam lindungan-Nya.
"Insyaallah, Mei nanti selesai pendidikan S1-nya. Kami memohon doa dari seluruh masyarakat agar ia dilancarkan urusannya dan selamat sampai kembali ke tanah air," kata Wakidi, mantan wakil rakyat di DPRD PPU yang politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, Rabu (11/3/2026).
Sosok Tsabitah adalah bukti nyata bahwa anak muda dari Kaltim mampu berbicara banyak di kancah internasional, bukan hanya lewat prestasi akademik, tapi juga melalui aksi nyata bagi kemanusiaan dunia.(*)
Editor : Hernawati