KALTIMPOST.ID, PENAJAM — Tekanan inflasi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) meningkat pada akhir Maret 2026. Berdasarkan data Laman Informasi Ekonomi Komoditas Kaltim (LAMINETAM), inflasi pada minggu kelima Maret tercatat sebesar 1,24 persen (month to month/mtm).
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Februari yang berada di level 0,89 persen. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya tekanan harga, terutama pada komoditas pangan.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Pemkab PPU, Krisna Aditama, menjelaskan bahwa lonjakan inflasi dipicu kenaikan harga sejumlah bahan pokok. Komoditas hortikultura dan perikanan menjadi penyumbang utama.
Baca Juga: Perbaikan Jalan Bentian Besar Dikebut, Warga: Tak Lagi Seperti Dikocok
“Hal ini dipengaruhi faktor cuaca serta tingginya permintaan pasca Hari Besar Keagamaan Nasional Idulfitri,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (4/4/2026).
Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) PPU mencatat setidaknya ada delapan komoditas utama yang menjadi pendorong inflasi. Di antaranya cabai rawit, ikan tongkol, tomat, ikan layang, daging ayam, telur ayam ras, beras, dan cabai merah.
Krisna menjelaskan, kenaikan harga cabai rawit, cabai merah, dan tomat disebabkan menurunnya pasokan dari daerah sentra produksi di Jawa dan Sulawesi. Tingginya curah hujan di wilayah tersebut berdampak pada produktivitas petani.
“Permintaan masyarakat masih tinggi meskipun periode Lebaran telah berakhir,” jelasnya.
Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas perikanan seperti ikan tongkol dan ikan layang. Cuaca ekstrem di laut menyebabkan jumlah nelayan yang melaut menurun, sehingga pasokan di pasar terbatas.
Sementara itu, harga daging ayam dan telur ayam ras masih mengalami kenaikan. Hal ini dipicu belum stabilnya pasokan ayam beku dari luar daerah serta ayam segar lokal.
“Untuk beras, kenaikan harga terjadi pada kategori medium asal Sulawesi akibat keterbatasan distribusi,” tambahnya.
Di tengah kenaikan harga tersebut, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan. Beberapa di antaranya kangkung, bawang putih, minyak goreng, dan bawang merah.
Mengantisipasi kondisi ini, TPID PPU menyiapkan berbagai langkah strategis. Di antaranya monitoring intensif, intervensi pasar, kerja sama suplai, serta pemanfaatan Belanja Tidak Terduga (BTT).
Krisna juga mengimbau masyarakat untuk memantau perkembangan harga pangan secara real time melalui laman resmi LAMINETAM.
Pemkab PPU memprediksi tekanan inflasi masih berlanjut hingga awal triwulan II 2026. Hal ini seiring dengan puncak musim hujan yang berpotensi memengaruhi produksi hortikultura. (*)