Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Stok Ayam Aman di PPU, Peternak Telur Tertekan Harga Murah dari Luar

Ahmad Maki • Selasa, 21 April 2026 | 09:41 WIB
Kepala Dinas Pertanian PPU, Rozihan Asward.
Kepala Dinas Pertanian PPU, Rozihan Asward.

 
KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Ketersediaan ayam potong dan ayam petelur di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dipastikan dalam kondisi aman dan stabil. Namun, sektor ayam petelur masih menghadapi sejumlah tantangan.

Kepala Dinas Pertanian PPU, Rozihan Asward, melalui Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Ristu Pramula, mengatakan jumlah peternak ayam potong di PPU saat ini mencapai sekitar 320 orang.

“Seluruh peternak merupakan peternak mandiri yang tergabung dalam sistem plasma dengan berbagai perusahaan,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

Baca Juga: 5 Film Rekomendasi untuk Rayakan Hari Kartini 2026, Sarat Perjuangan dan Kesetaraan Perempuan

Ia menjelaskan, meskipun berbasis kemitraan plasma, kapasitas produksi tiap peternak tergolong besar. Kapasitas maksimal bisa mencapai 4.000 ekor per peternak, dengan rata-rata sekitar 3.000 ekor.

Dengan jumlah peternak yang mencapai ratusan dan kapasitas produksi ribuan ekor per titik, pemerintah optimistis kebutuhan ayam potong masyarakat tetap terpenuhi.

“Kami yakin tidak ada risiko kekurangan stok di pasar,” tegasnya.

Berbeda dengan ayam potong, sektor ayam petelur di PPU masih sepenuhnya dikelola secara mandiri tanpa skema kemitraan dengan perusahaan besar.

Saat ini, hanya tersisa sekitar 10 peternak aktif. Jumlah tersebut menurun drastis dibandingkan sebelumnya yang sempat mencapai 20 peternak.

Baca Juga: Minat Fintech Melejit, OJK Terima 315 Konsultasi dan 31 Pengajuan Sandbox

Ristu menyebut, ketiadaan pola kemitraan menjadi kendala utama. Seluruh biaya operasional harus ditanggung sendiri oleh peternak, sehingga beban usaha menjadi lebih berat.

Meski jumlah peternak terbatas, produksi telur lokal masih tergolong tinggi. Dari 10 kandang yang ada, produksi mencapai sekitar 73.000 butir per hari.

Namun, para peternak kerap menghadapi tekanan dari masuknya telur luar daerah dengan harga yang lebih murah.

“Mereka sering kewalahan ketika pasokan dari luar masuk karena harganya jauh lebih rendah,” ungkapnya.

Meski kalah dari sisi harga, telur lokal dinilai memiliki kualitas lebih baik. Selain lebih segar, daya tahannya bisa mencapai satu bulan, lebih lama dibandingkan telur dari luar daerah.

Terkait dukungan pemerintah, Ristu menjelaskan bantuan hanya dapat diberikan kepada peternak yang tergabung dalam kelompok tani.

Baca Juga: Pantau Demo 21 April di Samarinda, Ini Link YouTube Live Depan Kantor Gubernur Kaltim

“Peternak harus membentuk kelompok terlebih dahulu. Bantuan tidak bisa disalurkan kepada yang masih mandiri,” jelasnya.

Untuk membentuk kelompok, minimal dibutuhkan 10 orang dalam satu domisili. Namun, kondisi peternak yang tersebar di berbagai lokasi menjadi kendala tersendiri dalam pembentukan kelompok tersebut. (*)

Editor : Ery Supriyadi
#ayam potong PPU #peternak telur PPU #dispertan PPU #harga telur murah