PENAJAM – Berdasarkan data Laman Informasi Ekonomi Komoditas Kaltim (Laminetam), angka inflasi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada April 2026 diprediksi melandai di kisaran 0,41 hingga 0,55 persen (mtm). Angka ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan realisasi inflasi Maret 2026 yang mencapai 1,09% (mtm).
Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah PPU, Krisna Aditama, menjelaskan bahwa pemantauan harga pada minggu keempat April mencakup 41 komoditas inflasi yang mewakili bobot 17 persen dari total komoditas inflasi di PPU.
“Terdapat lima komoditas utama yang menjadi motor penggerak inflasi bulan April. Mulai dari tomat, cabai merah, dan bawang merah,” kata Krisna, Jumat (1/5/2026).
Baca Juga: RUPS Bankaltimtara Tak Capai Aklamasi, Pemkot Samarinda Ajukan Dissenting Opinion
Kenaikan harga dipicu oleh menipisnya pasokan dari sentra produksi di Jawa dan Sulawesi akibat cuaca ekstrem yang mengganggu produktivitas. "Kondisi ini diperparah dengan belum masuknya masa panen raya di saat permintaan pasar tetap tinggi," ujar Krisna.
Sementara itu, untuk komoditas beras, terutama pada kategori premium, harga merangkak naik akibat pembengkakan biaya kemasan plastik di tingkat distributor.
“Begitu pula pada komoditas telur ayam ras. Kenaikan harga terjadi sebagai kompensasi atas naiknya biaya logistik dan harga pakan ternak,” sebutnya.
Baca Juga: Memaknai May Day dengan Berbagi: Koperasi TKBM Sumber Karya Paser Salurkan Ribuan Paket Sembako
Meski beberapa harga pangan naik, terdapat enam komoditas yang justru mengalami deflasi (penurunan harga) terdalam, yakni kangkung, ikan layang, cabai rawit, daging ayam, ikan tongkol, dan bawang putih. Menyikapi fluktuasi harga ini, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) PPU telah menyiapkan langkah-langkah konkret seperti monitoring intensif dengan melakukan pemantauan stok dan harga di tingkat distributor hingga petani untuk menjamin kelancaran distribusi pangan.
Serta melakukan intervensi pasar dengan mengoptimalkan Gerakan Pangan Murah (GPM) hingga ke tingkat kelurahan. “Serta kemandirian Pangan dalam mendorong masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam secara mandiri,” jelasnya.
Langkah ini diambil mengingat Triwulan II 2026 masih dibayangi musim hujan yang akan diikuti oleh masa transisi menuju musim kemarau. Ia menegaskan pentingnya sinergi untuk memastikan ketersediaan stok pangan tetap aman bagi masyarakat PPU. (*)
Editor : Sukri Sikki