KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Di balik balutan seragam batik haji berwarna biru, tersimpan kisah perjuangan dan haru para calon jemaah haji asal Penajam Paser Utara (PPU). Ada penantian panjang seorang kakek pekebun pisang hingga bakti seorang anak yang menggantikan almarhum ayahnya menuju Tanah Suci.
Suasana emosional itu mewarnai pelepasan 148 jamaah haji asal PPU di aula lantai dasar Masjid Agung Al Ikhlas Islamic Center PPU, Rabu (6/5/2026).
Salah satu kisah datang dari Dunani Gendut Tuntak (81), warga Desa Maridan, Kecamatan Sepaku. Sehari-hari, Dunani bekerja sebagai pekebun pisang. Setelah menunggu selama enam tahun sejak mendaftar pada 2020, ia akhirnya dapat berangkat menunaikan ibadah haji.
Baca Juga: Siapa Wakil Kaltim di Nasional? Intip Ketatnya Tahapan Seleksi 30 Pasang Calon Paskibraka 2026
“Keberangkatan ini memang yang didambakan. Bisa melaksanakan rukun Islam kelima,” ujar Dunani.
Perjalanan hajinya tahun ini terasa semakin istimewa karena ia berangkat bersama sang istri. Namun, di balik kebahagiaan itu, tersimpan cerita kegagalan pada musim haji sebelumnya.
Dunani mengungkapkan, dirinya sebenarnya sempat mendapat panggilan berangkat pada 2025 melalui kuota cadangan. Namun, keberangkatannya tertunda lantaran tidak lolos istitha’ah kesehatan.
“Sebenarnya saya sudah dua kali dipanggil. Tahun 2025 kemarin panggilan pertama, tapi gagal berangkat karena istitha’ah kesehatan tidak keluar. Alhamdulillah, tahun 2026 ini semuanya lancar dan kami bisa berangkat berdua,” tuturnya dengan wajah sumringah.
Antusiasme keluarga besar pun terlihat saat pelepasan keberangkatan. Sebanyak lima mobil rombongan ikut mengantar Dunani menuju lokasi acara. Bahkan, mantan ketua RT setempat turut hadir memberikan dukungan.
Baca Juga: Kiai Ashari Tersangka Cabul Puluhan Santriwati Diduga Kabur dari Pati, Polisi Siap Jemput Paksa
“Harapannya bisa menjadi haji mabrur dan kembali ke tanah air dengan selamat,” ucapnya dengan suara bergetar.
Di sisi lain, suasana haru juga menyelimuti Muhammad Naufal Al Mubarak (24), warga Kecamatan Penajam. Naufal tercatat sebagai salah satu jamaah termuda asal PPU di Embarkasi Balikpapan.
Pemuda yang baru menyelesaikan pendidikan SMA itu berangkat menggantikan posisi almarhum ayahnya yang wafat dua tahun lalu. Dalam perjalanan hajinya, Naufal mendampingi sang ibu menuju Tanah Suci.
“Rasanya campur aduk. Ada rasa syukur karena di usia muda sudah dipanggil menunaikan rukun Islam kelima. Tapi juga ada rasa sedih karena saya di sini menggantikan posisi Abah,” ungkap Naufal dengan mata berkaca-kaca.
Pemuda berdarah Astambul, Martapura, Kalimantan Selatan itu mengaku tak pernah menyangka akan mendapat kesempatan berhaji di usia muda. Ia pun bertekad memaksimalkan ibadah selama berada di Makkah dan Madinah sebagai bentuk penghormatan terakhir untuk sang ayah.
Diketahui, Dunani Gendut Tuntak dan Muhammad Naufal Al Mubarak merupakan dua dari 148 jamaah haji asal PPU yang dilepas pemerintah daerah.
Pelepasan dilakukan langsung oleh Bupati PPU Mudyat Noor didampingi Wakil Bupati PPU Waris Muin serta Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah PPU, Budi Atmaja. (*)
Editor : Ery Supriyadi