KALTIMPOST.ID,PENAJAM–Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Muhammad Syahrir, memberikan peringatan keras kepada seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kemenag PPU, khususnya para tenaga pendidik.
Ia menegaskan tidak akan menoleransi adanya guru atau pegawai yang tersandung kasus hukum, terutama terkait kekerasan dalam mendidik serta pelecehan seksual.
Pernyataan tegas tersebut menjadi sorotan utama saat Syahrir menghadiri acara pelepasan pelajar kelas IX MTsN 1 PPU yang berlangsung khidmat di Gedung Serbaguna Kodim 0913/PPU, Selasa (26/5).
Baca Juga: Ikut Sikat Begal di Kaltim, Kemenhan Tegaskan TNI Jalankan Misi OMSP
"Saya tidak ingin ada ASN di lingkungan Kemenag PPU, baik guru maupun pegawai lainnya, yang terlibat dalam persoalan hukum, terutama yang berkaitan dengan kekerasan dalam mendidik ataupun pelecehan seksual," tegas Syahrir di hadapan dewan guru dan wali peserta didik.
Menurut Syahrir, sebagai abdi negara di bawah naungan Kemenag, ASN harus mampu menjadi role model atau teladan moral yang baik, serta wajib menjaga nama baik institusi di tengah masyarakat.
Meski menuntut guru untuk membangun pendekatan emosional yang erat demi memahami karakter murid, Syahrir mengingatkan agar interaksi tersebut tetap memiliki batasan yang jelas, profesional, dan sesuai norma.
Baca Juga: Sebut Masyarakat Minang ‘Barbar’, Abu Janda Resmi Dilaporkan IKM ke Bareskrim Polri
“Guru memang harus dekat dengan murid agar mengetahui perkembangan mereka, tetapi tetap harus menjaga batas dan etika dalam berinteraksi, terutama antara guru laki-laki dan siswa perempuan, maupun sebaliknya,” tambahnya.
Dalam kegiatan yang turut dihadiri kepala Seksi Pendidikan Madrasah serta Penyelenggara Zakat dan Wakaf Kemenag PPU tersebut, Syahrir juga tidak lupa menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada dewan guru MTsN 1 PPU atas dedikasi mereka meluluskan generasi muda tangguh.
Acara pelepasan bertema perpisahan tersebut berjalan penuh haru. Momentum ini menjadi penanda usainya masa pendidikan pelajar di tingkat madrasah tsanawiyah, sekaligus langkah awal mereka menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi.(*)
Editor : Thomas Priyandoko