KALTIMPOST.ID,PENAJAM–Kabar duka yang datang dari Desa Lolo, Kecamatan Kuaro, Kabupaten Paser, menyisakan tanya sekaligus luka mendalam bagi Udin Abdu. Warga RT 03 Kelurahan Maridan, Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU) ini tak bisa menerima begitu saja laporan bahwa anak kandungnya, AM (35), merenggang nyawa akibat bunuh diri.
Dia menganggap, banyaknya kejanggalan di lokasi kejadian memicu dugaan kuat bahwa sang anak justru merupakan korban tindak pidana.
AM sejak lama tinggal di Lolo bersama ibu kandung dan ayah sambungnya setelah kedua orang tua kandungnya bercerai. Setelah sekian lama terpisah jarak, Udin Abdu dikagetkan oleh panggilan telepon dari anaknya yang lain di Labangka, Kecamatan Babulu, PPU, pada pertengahan Mei 2026, mengabarkan bahwa AM telah tiada.
Baca Juga: Sapi Kurban Presiden Prabowo Disembelih di BIC, Bobotnya Tembus 1,05 Ton
"Begitu dapat kabar sekitar jam setengah tiga sore, saya langsung buru-buru bersiap berangkat ke Paser," kata Udin saat memberikan keterangan kepada media ini, Rabu (28/5).
Namun, kekecewaan langsung menghantam Udin setibanya di tujuan. Jasad sang anak rupanya sudah buru-buru dikebumikan tanpa menunggu kehadirannya sebagai ayah kandung. Malam itu juga, sekitar pukul 22.00 Wita, Udin langsung mencecar ayah sambung almarhum mengenai pemakaman yang terkesan sangat mendadak tersebut.
"Saya tanya, kenapa buru-buru dimakamkan? Jawabannya cuma karena sesuai kebiasaan orang di sini. Saya serang balik, ini masalah kebiasaan atau memang tidak mengutamakan keluarga, terutama saya bapak kandungnya? Dia langsung diam," kata Udin dengan nada kecewa.
Kecurigaan Udin kian menguat setelah dirinya menginap di rumah salah satu kerabat di Tanah Grogot, Paser. Berbagai desas-desus dari pihak keluarga dan tetangga mulai bermunculan. Puncaknya terjadi pada Senin malam, ketika Udin ditelepon oleh salah satu kerabat lain, yang juga merupakan sepupunya. Kerabat tersebut mengabarkan ada informasi krusial dari salah satu perangkat desa di Lolo.
Baca Juga: Oase Hijau di Tengah Deru IKN, Kisah Agus Setiawan, Pejuang Lingkungan PPU
"Kerabat saya yang menjabat sebagai perangkat desa itu bilang, adiknya sendiri yang ikut memandikan jenazah anak saya. Saat dimandikan, ditemukan bekas luka yang mencurigakan di bagian leher almarhum," ungkapnya.
Bahkan saat proses memandikan jasad, kata Udin Abdu, sang pemandikan sempat bertanya kepada ibu dan ayah sambung almarhum apakah tidak ada keluarga lain yang ditunggu. Pihak keluarga di Lolo saat itu bersikeras menjawab bahwa sudah tidak ada lagi keluarga yang dinanti.
Dua hari berselang, Udin kembali mendatangi rumah duka di Lolo dan mendesak pihak keluarga di sana untuk membuka tabir kematian AM yang sebenarnya. Di hadapan Udin, mereka akhirnya mengaku sengaja menutup-nutupi kejadian pada malam pertama karena situasi rumah yang ramai pelayat. Saat itulah, pihak keluarga menyatakan bahwa AM meninggal karena bunuh diri.
Tak percaya begitu saja, Udin langsung memeriksa lokasi dan "alat" yang diklaim digunakan almarhum untuk mengakhiri hidup. Di sanalah Udin ini menemukan rentetan yang disebutnya sebagai kejanggalan yang dinilainya tidak masuk akal secara fisik.
Baca Juga: Harga Cabai Merah Keriting di PPU Melonjak Tajam, Komoditas Lain Relatif Stabil, Apa Saja?
"Saya periksa mejanya, kondisinya sudah jabuk (lapuk) dan sangat rapuh. Tidak mungkin kuat dinaiki oleh tubuh orang dewasa. Kondisi tali yang digunakan juga sangat janggal," beber Udin.
Keanehan tidak berhenti di situ. Ketika Udin meminta melihat pakaian terakhir yang dikenakan AM, pihak keluarga berdalih pakaian tersebut sudah digunting dan langsung dikubur bersamaan dengan proses pemakaman.
Tragisnya lagi, tidak ada satu pun laporan resmi yang dilayangkan ke pihak kepolisian maupun ketua RT setempat terkait peristiwa kematian tersebut dengan alasan "panik dan fokus menyelamatkan korban".
Di sisi lain, dari hasil penelusuran mandiri kepada istri almarhum, Udin mendapati informasi bahwa rumah tangga anaknya memang sedang dirundung masalah asmara, di mana sang istri merasa kecewa karena menduga jalinan kasih AM dengan perempuan lain.
Kendati ada motif asmara yang melatarbelakangi narasi bunuh diri tersebut, Udin Abdu tetap pada keyakinannya. Baginya, bukti fisik di lapangan berbicara lain.
"Intinya, meskipun mereka melaporkan anak saya mati bunuh diri, pengamatan saya di lapangan menunjukkan sebaliknya. Terlalu banyak keanehan dan kejanggalan. Saya curiga anak saya ini sebenarnya (diduga) dibunuh," tegas Udin.(*)
Editor : Thomas Priyandoko