KALTIMPOST.ID,PENAJAM–Upaya pelestarian lingkungan yang disinergikan dengan kearifan lokal terus digalakkan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Seorang penggiat lingkungan sekaligus pecinta tanaman dari Sentral Bunga dan Dekorasi Taman Anggrek Hitam Penajam, PPU, Masrani, secara resmi menyerahkan ratusan pot bunga bermotif Solong Tengkalang untuk menghijaukan berbagai fasilitas umum, Senin (8/6).
Agenda penyerahan dan penghijauan tahap pertama ini dipusatkan di halaman rumah Hj. Rela, RT 02, Kelurahan Tanjung Tengah, Kecamatan Penajam. Langkah nyata ini diambil Masrani sebagai bentuk dedikasinya terhadap penghijauan daerah yang berbasis pada perlindungan identitas budaya lokal.
Baca Juga: Inovasi Lokal Masrani, Pot Bunga "Solong" dan Dedikasi untuk Penghijauan PPU
Gagasan menciptakan pot bunga bermotif Solong Tengkalang ini lahir dari keprihatinan Masrani terhadap mulai berkurangnya perhatian masyarakat pada kearifan lokal di tengah perkembangan zaman. Solong Tengkalang sendiri merupakan wadah tradisional suku Paser yang dahulu digunakan untuk menampung hasil pertanian dan perkebunan.
Dari nilai historis tersebut, pria berdarah Bugis yang memiliki kecintaan besar pada budaya Paser ini, mentransformasikannya menjadi karya pot bunga yang bernilai estetika sekaligus edukatif. “Bagaimanapun juga pelestarian kearifan lokal ini adalah identitas yang perlu kita jaga. Saya sebenarnya Bugis, tapi saya cinta Paser karena kearifan lokalnya,” kata Masrani.
Baca Juga: Kisah Inspiratif Masrani, Lurah Peduli Lingkungan hingga Penggerak Penghijauan
Hingga saat ini, Masrani telah mewakafkan dan mendistribusikan sekitar 200 pot Solong Tengkalang secara gratis—lengkap dengan tanaman dan media tanamnya—ke berbagai ruang publik di PPU. Beberapa titik yang telah terpasang penuh di antaranya Masjid Agung Al-Ikhlas, Rumah Adat Kuta Rakan Tatau di Kelurahan Nipah-Nipah, Kecamatan Penajam, serta sejumlah masjid, musala, sekolah, pesantren, hingga area makam.
Khusus di Kelurahan Tanjung Tengah yang menjadi titik awal gerakan, kata dia, terdapat sekitar 14 titik penempatan fasilitas umum. Wilayah ini dipilih karena merupakan kawasan wisata, sehingga program penghijauan tanaman hias ini dapat sekaligus mendukung estetika pariwisata daerah.
Baca Juga: HP Jadul Sitaan KPK Ditawar Rp 59 Juta, Pemenang Malah Kabur
Inovasi lingkungan berbasis budaya ini mendapat dukungan resmi dari jajaran pemerintahan setempat. Masrani menegaskan bahwa gerakan pelestarian lingkungan dan kearifan lokal tidak dapat berjalan maksimal tanpa adanya kolaborasi makro.
“Tanpa dukungan pemerintah saya kira kurang maksimal. Harus ada kerja sama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Kalau pemerintah menyambut, saya yakin gerakan ini akan semakin besar,” tegasnya.
Baca Juga: Air Mata Haru Minang, Rumahnya yang Hangus Kini Dibangun Kembali oleh Polres PPU
Meski saat ini sebagian besar pembiayaan program penghijauan ini masih bersumber dari dana pribadi, Masrani memiliki target jangka panjang yang besar. Ia berharap ke depan, pot tanaman Solong Tengkalang ini dapat menghiasi ruang publik strategis di tingkat nasional, termasuk berdiri di depan Istana Negara di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai simbol kuatnya pelestarian lingkungan yang mengangkat kearifan lokal Kalimantan.(*)
Editor : Thomas Priyandoko