KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Kondisi Pasar Induk Nenang di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kian memprihatinkan. Aktivitas jual beli di pasar tersebut dilaporkan semakin sepi, lantaran masyarakat lebih memilih berbelanja di tempat lain.
Kepala UPT Pasar Induk Nenang, Yusriadi, mengungkapkan bahwa masyarakat setempat saat ini cenderung beralih ke Pasar Petung. Ia menyebut ada beberapa faktor yang memicu kondisi tersebut. Selain pengelolaan portal parkir di kawasan pasar yang dinilai tidak berfungsi optimal, serta adanya pungutan dalam pungutan.
Baca Juga: Konektivitas Udara Meningkat, Penerbangan Perdana Wings Air Rute Samarinda–Melak Resmi Beroperasi
Faktor lainnya yang menjadi sorotan adalah menjamurnya pasar dadakan atau "pasar tumpah" di pinggir jalan raya. Keberadaan pasar-pasar ini dianggap sangat menggerus potensi kunjungan ke Pasar Induk Nenang.
"Dengan adanya pasar tumpah di luar itu, otomatis orang yang mau berbelanja berpikir, ngapain saya ke sana (Pasar Induk)? Apalagi orang sekarang semua berhitung, mulai dari bensin hingga kebutuhan pokok lainnya di tengah situasi ekonomi saat ini," ujar Yusriadi.
Baca Juga: Kutim Belum Punya Alat Pemantau Udara Permanen, Pengukuran Masih Pinjam dari Provinsi
Yusriadi menjelaskan, pola belanja masyarakat, khususnya kalangan pegawai, lebih memilih kepraktisan di tepi jalan. Hal ini membuat operasional pedagang di Pasar Induk Nenang menjadi tidak menentu. Pedagang seringkali memilih tutup lebih awal karena kunjungan pembeli sudah drastis berkurang sejak siang hari.
"Orang yang jualan di sini berpikir, buka sampai sore pun percuma. Pengunjung biasanya hanya sampai jam 11.00 atau 12.00 siang. Pasar sudah sepi. Keramaian hanya terlihat saat hari pasar, yakni Kamis dan Sabtu," tambahnya.
Dengan jam operasional yang jauh lebih panjang, yakni hingga pukul 20.00 Wita, pasar tumpah dipinggir jalan dinilai menjadi ancaman bagi kelangsungan usaha pedagang di dalam pasar induk.
"Imbasnya, pedagang pun jadi malas membayar retribusi pasar karena pemasukan yang terus menurun," ucapnya.
Kekhawatiran pengelola pasar kini bertambah dengan hadirnya Koperasi Merah Putih yang berlokasi tepat di seberang pagar belakang pasar. "Kalau di sana lebih murah, matilah usaha di sini," pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki