KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Perumda Air Minum Danum Taka menyiapkan tambahan 1.000 sambungan rumah (SR) baru untuk memperluas layanan air bersih di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Program tersebut difokuskan ke sejumlah wilayah di Kecamatan Waru.
Direktur Perumda Air Minum Danum Taka, Abdul Rasyid, menjelaskan bahwa kuota sambungan baru akan dialokasikan untuk 200 sambungan di Bangun Mulya, 400 sambungan di Kelurahan Waru, dan 400 sambungan lainnya di Desa Sesulu.
“Penambahan ini bersifat reguler, bukan program yang mendadak. Sepanjang masyarakat di wilayah tersebut mendaftar, maka kuota itu akan kami penuhi,” ujar Abdul Rasyid saat dikonfirmasi, Kamis (18/6/2026).
Menurutnya, pemerintah daerah juga memberikan kemudahan bagi masyarakat yang terkendala biaya pemasangan. Sesuai kebijakan Bupati PPU Mudyat Noor, biaya pemasangan sambungan rumah dapat dibayarkan secara bertahap atau dicicil.
“Kebijakan ini bertujuan meringankan beban masyarakat agar tetap dapat memperoleh akses air bersih,” katanya.
Saat ini, jumlah pelanggan aktif yang telah terlayani melalui jaringan Perumda Air Minum Danum Taka mencapai sekitar 1.600 sambungan rumah.
Rasyid menjelaskan, Instalasi Pengolahan Air (IPA) Waru sebenarnya telah memiliki infrastruktur pengolahan air yang dibangun sejak 2011 dengan kapasitas produksi 20 liter per detik.
Selain itu, terdapat dua sumber air baku yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Kedua sumber tersebut berasal dari fasilitas pengolahan air dengan kapasitas masing-masing 10 liter per detik dan 20 liter per detik.
“Tadi Pak Bupati sudah memahami bahwa sebenarnya kami memiliki dua sumber air baku yang belum pernah dimanfaatkan secara maksimal. Kendala utamanya selama ini adalah keterbatasan infrastruktur,” ujarnya.
Baca Juga: Misi Jinakkan Tembok Qatar, Ini Prediksi Skor dan Susunan Pemain Kanada vs Qatar (2-1)
Berdasarkan data neraca air dari Badan Wilayah Sungai (BWS), salah satu sumber air memiliki potensi hingga 500 liter per detik. Sementara sumber lainnya memiliki kapasitas antara 250 hingga 300 liter per detik.
Namun, saat ini pemanfaatan air baku tersebut baru mencapai sekitar 30 liter per detik karena keterbatasan jaringan dan infrastruktur pendukung.
“Kami baru memanfaatkan 30 liter per detik karena infrastrukturnya belum tersedia. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk pengembangan ke depan agar kapasitas air baku tersebut bisa dimanfaatkan secara maksimal bagi masyarakat,” pungkas Rasyid. (*)
Editor : Ery Supriyadi