PENAJAM- Kelompok Terbang (Kloter) 8 yang membawa 147 jamaah tiba di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Kepulangan rombongan ratusan jamaah tersebut terpusat di Aula Masjid Al Ikhlas Islamic Center dan disambut oleh Wakil Bupati PPU, Waris Muin, Kamis (18/6/2026).
Plt Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah PPU, Budi Atmaja, menyampaikan bahwa kepulangan ratusan haji mulai dari Madinah ke Tanah Air bejalan lancar. Meski demikian, ia menyampaikan duka cita mendalam karena terdapat satu jemaah yang meninggal dunia saat menjalankan ibadah haji, sehingga jumlah jemaah yang kembali berkurang dari rencana awal 148 orang menjadi 147.
"Alhamdulillah, 147 jemaah tiba dalam keadaan sehat walafiat hingga sampai ke Penajam. Kami juga turut berduka cita atas satu jemaah yang wafat, dan rencananya kami akan bersilaturahmi ke rumah keluarga almarhum untuk menyampaikan belasungkawa," ujar Budi Atmaja, ditemui diruangannya.
Budi menjelaskan, setibanya di embarkasi Balikpapan, rombongan melalui proses serah terima kepada panitia daerah sebelum melanjutkan perjalanan menuju PPU menggunakan empat unit bus dengan pengawalan ketat, termasuk ambulans, kendaraan operasional Kementerian Haji dan Umrah PPU, Dinas Perhubungan, serta truk pengangkut koper dan air zam-zam melalui akses Tol Pulau Balang.
Ia juga menghimbau agar seluruh jemaah agar terus menjaga kondisi kesehatan pasca-kepulangan. Ia menyarankan agar jemaah melakukan pengecekan ke Puskesmas setempat jika merasa ada keluhan kesehatan dalam kurun waktu 20 hari ke depan.
"Kami berharap jemaah tetap menjaga kesehatan. Jika merasa kurang nyaman, segera lapor ke Puskesmas untuk pemeriksaan antisipasi penyakit bawaan dari sana," imbuhnya. Selain itu, ia berharap agar kekhusyukan ibadah yang telah dijalani selama di Tanah Suci dapat terus dipertahankan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan masing-masing, guna menjaga predikat haji mabrur.
Sementara itu, terkait daftar tunggu haji, Budi menyebutkan bahwa saat ini jumlahnya mencapai sekitar 3.600 orang. Mengenai kuota untuk tahun 2027, Kementerian Haji dan Umrah PPU masih menunggu data resmi dari pusat melalui Kantor Wilayah (Kanwil).
Namun, Budi optimistis mengenai peluang penambahan kuota. Ia mencontohkan keberhasilan pada musim haji 2026, di mana banyak jemaah cadangan yang berhasil berangkat lebih awal karena mengisi kuota kosong dari jemaah yang menunda atau meninggal dunia.
"Untuk tahun depan skemanya sama, kami akan menyiapkan cadangan sekitar 30 persen dari kuota yang ada. Jadi, jika sewaktu-waktu ada kuota kosong, kita sudah siap," ucap Budi. Sementara itu, Mukhlis (44), jemaah haji asal Kelurahan Waru tampak tak kuasa menahan air mata bahagia menceritakan suka dan duka sewaktu beribadah di sana.
Ia pun tak menyangka dapat menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji selama 40 hari di tanah suci. Dengan rincian 30 hari di Makkah dan 10 hari di Madinah. Bagi Mukhlis, ini merupakan pengalaman pertamanya menginjakkan kaki di tanah suci.
“Saya merasa sangat bersyukur karena jadwal ibadah selama di tanah suci dapat berjalan dengan sangat teratur,” ujarnya, kepada media ini. Ia juga tidak menampik adanya ujian kesabaran yang harus dihadapi, terutama saat fase puncak haji di Mina. Selain faktor cuaca, keterbatasan fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus) menjadi duka dan tantangan tersendiri bagi jutaan jemaah yang berkumpul di waktu bersamaan.
"Dukanya macam-macam. Salah satunya ya cuaca panas tadi. Terus kalau di Mina, tantangannya itu antre kalau mau mandi atau buang air. Karena jumlah orangnya terlalu banyak, sedangkan fasilitas WC-nya sedikit terbatas di Mina. Jadi harus sabar mengantre bergantian," kenang Mukhlis.
Menurutnya, tantangan terbesar yang harus dihadapinya dan jemaah lainnya tahun ini adalah cuaca ekstrem. Ia menceritakan bahwa suhu udara di sana sempat menyentuh angka yang sangat menyengat.
"Sangat panas, mencapai 43 derajat (celsius). Tapi Alhamdulillah, meski panas tetap bisa kita lalui karena niat kita ke sana memang untuk ibadah. Walaupun panas, tetap kita jalani," ungkap Mukhlis. (riz)