PENAJAM– Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) merilis perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk periode Juni 2026. Hasil pemantauan menunjukkan adanya kenaikan harga berbagai komoditas secara umum di wilayah tersebut.
Kepala BPS Kabupaten PPU, Suko Haryono, mengungkapkan bahwa pada Juni 2026 terjadi inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 2,96 persen. Angka ini didasarkan pada kenaikan IHK dari 108,81 pada Juni 2025, menjadi 112,03 pada Juni 2026.
"Sementara itu, untuk tingkat inflasi month-to-month (m-to-m) tercatat sebesar 0,39 persen, dan tingkat inflasi year-to-date (y-to-d) berada di angka 2,71 persen," kata Suko, Senin (6/7/2026).
Ia menjelaskan, bahwa inflasi tahunan ini dipicu oleh naiknya indeks di seluruh kelompok pengeluaran masyarakat. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatatkan kenaikan tertinggi. Disusul oleh kelompok makanan dan transportasi. Dengan rincian kenaikan per kelompok pengeluaran beserta andilnya terhadap inflasi y-on-y, seperti makanan, minuman, dan tembakau yang naik 3,70 persen atau andil inflasi 1,49 persen.
“Perawatan pribadi dan jasa lainnya, naik 7,95 persen (andil inflasi: 0,45 persen). Kemudian transportasi, naik 3,60 persen (andil inflasi: 0,31 persen). Penyediaan makanan dan minuman atau restoran, naik 3,11 persen (andil inflasi: 0,29 persen). Perumahan, air, listrik, dan Bahan Bakar RT, naik 1,30 persen (andil inflasi: 0,20 persen), perlengkapan dan pemeliharaan rutin RT, naik 1,66 persen (andil inflasi: 0,08 persen).
Sementara pakaian dan alas kaki, naik 0,96 persen (andil inflasi: 0,05 persen). Serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, naik 0,88 persen (andil inflasi: 0,04 persen), kesehatan, naik 1,21 persen (andil inflasi: 0,02 persen), pendidikan, naik 0,78 persen (andil inflasi: 0,02 persen) dan rekreasi, olahraga, dan budaya, naik 0,90 persen (andil inflasi: 0,01 persen),” rincinya.
Selain itu, ia juga memaparkan sejumlah komoditas utama yang memberikan andil besar terhadap inflasi tahunan (y-on-y) di PPU. Seperti, emas perhiasan, ikan layang, bensin, dan tomat menjadi beberapa komoditas yang paling dominan mendorong kenaikan harga.
"Komoditas lain yang juga menyumbang inflasi y-on-y di antaranya Sigaret Kretek Mesin (SKM), cabai rawit, semangka, minyak goreng, nasi dengan lauk, bawang merah, hingga bahan bakar rumah tangga dan beras," paparnya.
Meski demikian, terdapat beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga (deflasi) secara tahunan sehingga menahan laju inflasi lebih tinggi. Komoditas tersebut meliputi terong, cumi-cumi, susu bubuk, udang basah, susu bubuk untuk bayi atau balita, bawang putih, ayam hidup, ketimun, sabun detergen bubuk, dan kecap.
Diketahui, secara bulanan (month-to-month), bensin, bawang merah, minyak goreng, dan cabai rawit menjadi motor utama pergerakan inflasi pada Juni 2026. Selain itu, kenaikan juga terjadi pada komoditas jagung manis, beras, cabai merah, makanan jadi seperti gado-gado dan ayam goreng, serta beberapa jenis sayuran dan peralatan rumah tangga seperti panci.
Di sisi lain, tekanan inflasi bulanan berhasil diredam oleh penurunan harga pada daging ayam ras, semangka, sawi hijau, ikan tongkol, tomat, ayam hidup, ketimun, terong, solar, telur ayam ras, ikan bandeng, serta jeruk yang menjadi penyumbang deflasi m-to-m. (*)
Editor : Ismet Rifani