BMKG Prediksi Kemarau Panjang, Kapasitas Air Minum di Penajam Bakal Anjlok hingga 80 Persen

Ahmad Maki • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 10:51 WIB
Abdul Rasyid memaparkan kondisi beberapa embung maupun bendungan di PPU dalam rakor Mitigasi Risiko Bencana Kekeringan Air Lintas Sektor di ruang rapat Bupati PPU, Rabu (22/7/2026). (AHMAD MAKI/KP)
Abdul Rasyid memaparkan kondisi beberapa embung maupun bendungan di PPU dalam rakor Mitigasi Risiko Bencana Kekeringan Air Lintas Sektor di ruang rapat Bupati PPU, Rabu (22/7/2026). (AHMAD MAKI/KP)

 

KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Musim kemarau yang melanda wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dalam kurun waktu tiga minggu hingga satu bulan terakhir mulai berdampak serius terhadap ketersediaan air bersih.

Meskipun hujan sempat turun dalam beberapa hari terakhir, pasokan air untuk layanan pelanggan Perumda Air Minum Danum Taka maupun masyarakat umum belum bisa dipastikan aman.

Baca Juga: Kemenag dan Pemkab PPU Buka Seleksi Calon Pimpinan Baznas Periode 2026–2031, Cek Syarat dan Jadwalnya

Sebab, berdasarkan data dan pengumuman dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak fenomena El Niño diprakirakan berlangsung mulai pertengahan Agustus hingga November. Situasi saat ini dinilai baru merupakan awal dari dampak kemarau panjang tersebut, sehingga potensi krisis air diprediksi masih akan berlanjut.

Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) PPU menggelar Rapat Koordinasi Mitigasi Risiko Bencana Kekeringan Air Lintas Sektor yang dihelat di ruang rapat Bupati PPU, Rabu (22/7/2026).

Rapat lintas sektor ini diinisiasi oleh Perumda Air Minum Danum Taka bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU guna mengantisipasi penurunan kapasitas pasokan air baku dan lonjakan permintaan air dari masyarakat.

Baca Juga: Bupati Paser Minta Bidan Siap Siaga di Desa dan Larang Pengajuan Mutasi

Direktur Perumda Air Minum Danum Taka, Abdul Rasyid mengungkapkan bahwa dari total enam titik instalasi pengolahan air yang dimiliki, beberapa di antaranya telah mengalami penurunan debit air secara drastis.

"Kalau kemarau El Niño ini terus berlangsung sesuai dengan apa yang disampaikan oleh BMKG, maka bisa dipastikan Babulu, Sotek, Maridan, dan Penajam berdampak signifikan," ujar Abdul Rasyid, ditemui usai kegiatan.

Ia menjelaskan, untuk wilayah Penajam, pengolahan air diperkirakan hanya mampu beroperasi di bawah 30 liter per detik atau mengalami penurunan kapasitas produksi hingga 80 persen. "Akibatnya, pendistribusian air bersih ke pelanggan akan digilir," katanya.

Bahkan, beberapa pompa distribusi jenis submersible di embung Sotek, Maridan, Babulu, dan Sepaku telah menggantung akibat menyusutnya debit air baku. "Kondisi ini berisiko merusak unit pompa karena hanya menyedot udara jika tidak diantisipasi dengan baik," jelasnya. (*)

Editor : Sukri Sikki
air bersih kemarau Abdul Rasyid Penajam Paser Utara (PPU)