Direktur Perumda Air Minum Danum Taka, Abdul Rasyid, menjelaskan bahwa secara teknis, tingkat keasaman air baku tersebut dapat dinaikkan hingga memenuhi standar baku mutu air bersih.
"Untuk menaikkan pH air baku berdasarkan ketentuan itu kan antara 5 atau 6. Jadi untuk menaikkan pH dari 2,95 menjadi 5 atau 6 itu sangat bisa, tinggal treatment bahan kimia saja. Cuma persoalannya ada tidaknya rekomendasi dari pemerintah," jelas Rasyid, Sabtu (25/7/2026).
Mengenai metode pengaliran air dari lokasi void tambang menuju unit pengolahan, PDAM mempertimbangkan skema efisiensi biaya. Daripada membangun instalasi perpipaan yang membutuhkan anggaran besar (high cost), pihak PDAM merancang opsi memanfaatkan aliran sungai alami.
"Area itu kan dekat dengan Sungai Lawe-Lawe. Kalau pakai perpipaan kan high cost ya, jadi strateginya mungkin kita alirkan ke sungai. Nanti di hilir sungai kita tahan supaya airnya tidak terbuang. Masih banyak metode yang bisa dimanfaatkan, yang jelas kita butuh air itu untuk menambah debit air baku kita," paparnya.
Rasyid meyakini, jika rekomendasi dari pemerintah daerah diterbitkan, keberadaan kolam eks tambang PPC akan sangat membantu masyarakat PPU dalam melewati masa kekeringan. Dengan luas mencapai 14 hingga 17 hektare serta kedalaman sekitar 8 meter, volume air yang tertampung di lokasi tersebut dinilai sangat masif.
"Luasnya kurang lebih 14 sampai 17 hektare dengan kedalaman sekitar 8 meter, itu kan besar sekali. Kapasitasnya hampir sama luasnya dengan embung milik Pertamina di Lawe-Lawe, bedanya kalau milik tambang ini selain luas, dia juga dalam. Kalau memang mendapat lampu hijau, saya tidak terlalu khawatir menghadapi El Nino sampai Oktober–November nanti karena ada cadangan yang luar biasa besar," pungkas Rasyid. (*)
Editor : Ismet Rifani