Menggali Manisnya Potensi Kelulut di Penajam, Inovasi Jebakan Hutan hingga Menjaga Kemurnian Raw Honey 

Ahmad Maki • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 17:22 WIB
MADU MENTAH: Ahmad Jais (kiri) bersama rekannya Supriyanto menunjukan hasil madu mentahan yang dihasilkan dari koloni stingless bee miliknya.
MADU MENTAH: Ahmad Jais (kiri) bersama rekannya Supriyanto menunjukan hasil madu mentahan yang dihasilkan dari koloni stingless bee miliknya.

PENAJAM – Perkembangan budidaya lebah tanpa sengat (stingless bee) atau kelulut di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) tak hanya bergantung pada pasokan koloni dari luar daerah. Para peternak lokal kini mulai berinovasi mengembangkan teknik mandiri yang lebih hemat biaya sekaligus memanfaatkan potensi alam sekitar.

Melanjutkan kisah perjalanan Jaisbee Farm yang dirintis oleh Ahmad Jais bersama rekannya Supriyanto di Desa Girimukti Start 7, Kecamatan Penajam, pembudidayaan lebah jenis Itama ini menyimpan berbagai dinamika menarik. Mulai dari cara perbanyakan koloni, pengolahan madu murni, hingga strategi pemasaran uniknya.

Jika pada awalnya koloni kelulut didatangkan dari Kalimantan Barat atau Kalimantan Tengah dalam bentuk log (potongan kayu alam), kini peternak lokal seperti Supriyanto menggunakan metode jebakan yang lebih kreatif.

Proses jebakan dilakukan dengan membuat kotak-kotak kayu kosong yang bagian dalamnya diolesi lelehan propolis, zat perekat alami hasil bakaran dari sarang lebah lama.

"Propolis dari sarang lama kita ambil, dipanaskan sampai meleleh, lalu dioleskan rata ke dalam kotak kosong. Kemungkinan lebah hutan untuk masuk cukup besar, asal dirawat secara berkala sekitar seminggu atau dua minggu sekali dengan memanaskan ulang aroma propolisnya," ucap Supriyanto, Jumat (24/7/2026).

Menurutnya, metode jebakan ini menjadi solusi efisien di tengah kendala pengiriman log dari luar daerah akibat keterbatasan jalur karantina. Koloni hasil jebakan lokal yang sudah mapan dan siap panen, umumnya dipasarkan di kisaran harga Rp800.000 hingga Rp1.000.000 per kotak.

Salah satu keunggulan utama madu kelulut dari peternak PPU adalah sifatnya yang murni sebagai raw honey (madu mentah). Setelah dipanen dari kantong madu di dalam topping, madu hanya melewati proses penyaringan sederhana sebelum langsung dikemas.

Ahmad Jais juga menjelaskan bahwa madu kelulut mereka tidak melalui proses rekayasa, campuran, ataupun pengolahan pabrikan.

"Madu kami murni disedot, disaring, lalu masuk botol atau kemasan. Betul-betul madu mentah tanpa proses fermentasi buatan," ungkap Jais.

Namun, mengedarkan raw honey memiliki karakteristik khusus. Karena masih kaya akan enzim alami dan tidak melewati proses pemanasan (pasteurisasi) untuk membuang kadar air, madu mentah terus mengalami proses fermentasi alami yang menghasilkan gas.

Jika disimpan dalam wadah kedap udara atau terguncang selama pengiriman, tekanan gas bisa membuat kemasan mengembung bahkan pecah. Oleh sebab itu, Jais lebih memilih menggunakan kemasan plastik yang elastis untuk pengiriman jarak jauh demi keamanan, serta mengandalkan sistem kepercayaan dengan konsumen.

Produksi madu kelulut sangat bergantung pada kelimpahan vegetasi bunga di sekitar pekarangan. Secara berkala, satu koloni lebah mampu menghasilkan sekitar 300 ml madu per bulan. Namun, pada puncak musim bunga yang padat, hasilnya bisa melonjak drastis hingga 1 liter per 2 bulan.

Berbeda dari penjualan madu pada umumnya yang diukur dengan satuan volume (milliliter), Jaisbee Farm lebih menerapkan standar penjualan berbasis berat timbangan (gram) untuk menjamin ketepatan takaran bagi konsumen.

Mulai dari ukuran 120 gram (setara ~100 ml), ia jual seharga Rp50.000. untuk ukuran 330 gram (setara ~300 ml), ia jual Rp130.000. Sementara itu, untuk ukuran 600 gram (setara ~½ liter), ia jual dengan harga Rp220.000

Dengan memadukan ketelitian menakar hasil panen, menjaga kemurnian nutrisi madu mentah, serta konsistensi memperbanyak vegetasi bunga, Ahmad Jais dan Supriyanto terus membuktikan bahwa kelulut bukan sekadar hobi sampingan, melainkan komoditas ekonomi lokal Penajam yang sangat menjanjikan. (*)

Editor : Ismet Rifani
budidaya lebah tanpa sengat Jaisbee Farm Ahmad Jais dan Supriyanto madu kelulut