KALTIMPOST.ID, PENAJAM - Tingginya antusiasme peternak di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) untuk meningkatkan populasi sapi melalui metode Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik terbentang tembok besar. Keterbatasan anggaran daerah dan minimnya pasokan nitrogen cair dari tingkat provinsi membuat pelaksanaan program unggulan ini tersendat.
Padahal, kelancaran program IB memerlukan tiga komponen vital yang saling bergantung. Seperti semen beku (straw), alat suntik khusus (insemination gun), dan kontainer penampung nitrogen cair agar kualitas bibit tetap terjaga.
Baca Juga: Lepas Ketergantungan LPG, Warga Desa Bukit Permata di Kutim Andalkan Biogas dari Kotoran Sapi
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian PPU Ristu Pramula mengungkapkan, bahwa alokasi bantuan semen beku dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sebanyak 400 dosis telah habis terdistribusi seluruhnya ke masyarakat. Kini, masalah utama bergeser pada ketersediaan media penyimpanannya.
"Bantuan dari provinsi berupa straw sebanyak 400 dosis sudah terdistribusi. Hambatan kita ada pada nitrogen cairnya. Jika bibit tidak terendam N2 cair, bibit akan mati di dalam tabung," kata Ristu, Minggu (2/8/2026).
Disinggung berapa biaya untuk N2 cair tersebut, Ristu menjelaskan, harga cairan nitrogen cair berada di kisaran Rp25.000 per liter yang disuplai oleh vendor Samator. Satu tabung kontainer berkapasitas 34 liter umumnya diisi oleh beberapa goblet, di mana tiap goblet memuat sekitar 100 bibit sapi.
Selama terendam sempurna, bibit-bibit unggul tersebut sebenarnya mampu bertahan hingga puluhan tahun. Namun, akibat keterbatasan anggaran di Pemkab PPU serta belum turunnya alokasi dana pusat, kelangkaan nitrogen cair terus berlarut-larut sejak Mei lalu.
Baca Juga: BPBD Samarinda Siaga Hadapi El Nino, Juli Terjadi 13 Karhutla
Demi menjaga agar bibit sapi yang ada tidak busuk dan rusak, para petugas di lapangan beserta peternak terpaksa memutar otak.
"Karena dari kami belum bisa menganggarkan lantaran keterbatasan anggaran dan ada alokasi lain, teman-teman petugas lapangan dan petani akhirnya mengambil inisiatif untuk membeli sendiri N2 cair tersebut," keluhnya.
Baca Juga: Ramai di Grup Medsos Kutim, Polisi Bongkar Modus Akun Jual Narkoba Ternyata Pasobis
Kondisi ini terbilang mendesak mengingat tingginya dinamika reproduksi ternak di lapangan. Setiap hari, permohonan kawin suntik terus berdatangan dari berbagai penjuru PPU seiring masuknya masa birahi sapi ternak warga.
“Contohnya gini, dari total estimasi 8.000 populasi sapi di PPU, sekitar 7.000 ekor di antaranya merupakan sapi betina produktif yang membutuhkan layanan IB secara berkelanjutan,” jelasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki