Nasi Padang Keliling di PPU, Sempat Patah Arang, Kini Omzet Jutaan Rupiah per Hari

Ahmad Maki • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 17:03 WIB
LARIS: Para ASN mengerumuni gerobak keliling nasi padang milik Jhonny yang mangkal di belakang Kantor Bupati PPU, Senin (3/8/2026). (FOTO AHMAD MAKI)
LARIS: Para ASN mengerumuni gerobak keliling nasi padang milik Jhonny yang mangkal di belakang Kantor Bupati PPU, Senin (3/8/2026). (FOTO AHMAD MAKI)

PENAJAM— Kegigihan dan kesabaran selalu membuahkan hasil manis. Itulah yang dirasakan Jhonny, pria asal Padang Pariaman, pemilik usaha Syifa Gadieh Minang.

Berbeda dari pedagang kuliner Minang pada umumnya yang memilih berdiam di warung, Jhonny lebih memilih strategi berani dan inovatif, yakni berjualan Nasi Padang secara keliling menggunakan gerobak motor untuk "menjemput bola".

Tepat setelah gerobaknya terparkir. Para ASN yang ada di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), langsung mengerumuninya. Pembayarannya pun bisa tunai atau melalui QRIS.

Didampingi istrinya, Yenni menceritakan. Tentu keputusan ini diambil bukan tanpa alasan. Baru tiga tahun merantau dan menetap di PPU, ia merasakan betul beratnya mengandalkan dua kios usaha mereka yang berlokasi di kawasan Gunung Steleng dan Nipah-Nipah, jika hanya menunggu pembeli datang.

Awal mula mencoba konsep gerobak motor, perjalanan tentu tak semulus yang diangankan. Ada ujian kesabaran dan mental yang menghadang.

"Pada hari pertama hingga hari ketiga berjualan keliling, suami saya sempat patah arang, karena omzetnya sangat minim, hanya berkisar Rp100.000 hingga Rp200.000 per hari yang ," kata Yenni kepada media ini, ditemui di sela-sela jualan mendampingi suami, Senin (3/8/2026).

Namun, berkat suntikan semangat dan kesabaran dari sang istri, Jhonny memilih untuk terus bertahan. Perlahan, tapi pasti. Usaha itu membuahkan hasil di hari keempat, di mana jualan mulai menunjukkan pergerakan positif hingga sekarang.

Meski baru sekitar 15 hari beroperasi menggunakan gerobak motor tersebut usahanya berkembang pesat. Saat ini omzet yang di dapat mencapai Rp1,5 juta per hari. Dengan estimasi 50 porsi nasi yang terjual. harga per porsinya bervariatif, diberandol antara Rp20.000 hingga Rp25.000, tergantung jenis lauknya.

Jhonny pun membidik sasaran lingkungan kantor-kantor yang ada di pemerintahan di PPU. Jadwalnya pun dari Senin - Jumat.

"Berangkat mulai pukul 09.30 Wita dan dagangan sudah ludes sekitar pukul 13.00 Wita," ujar Yenni.

Sementara untuk jadwal akhir pekan, Sabtu dan Minggu, Jonny memilih menjajakan nasi padang miliknya berkeliling ke area umum dan pasar-pasar di Penajam.

Untuk pembagian tugas pasangan suami istri ini pun berjalan kompak. Yenni bertugas memasak seluruh sajian Minang di dapur, sementara Jhonny yang terjun langsung keliling menjajakannya. Di sisi lain, selama Jhonny keliling, dua kios mereka di Gunung Steleng dan Nipah-Nipah tetap beroperasi seperti biasa yang dijaga oleh karyawannya.

Melihat tingginya antusiasme pembeli melalui telepon, sampai- sampai banyak kantor pelayanan publik yang belum kebagian. Mereka berdua kini tengah merakit gerobak motor kedua. Tak berhenti di PPU, Yenni mengungkapkan rencana besar mereka ke depan untuk melebarkan sayap usaha hingga ke wilayah Balikpapan. (*)

Editor : Ismet Rifani
nasi padang keliling Syifa Gadieh Minang Jhonny dan Yenni