Inflasi YTD PPU Tertinggi di Kaltim, Dipicu Harga Ayam, Ikan, dan BBM

Ahmad Maki • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 19:08 WIB
Kepala Bagian Ekonomi dan SDA Sekretariat Daerah Kabupaten (Setkab) PPU, Krisna Aditama. (AHMAD MAKI/KP)
Kepala Bagian Ekonomi dan SDA Sekretariat Daerah Kabupaten (Setkab) PPU, Krisna Aditama. (AHMAD MAKI/KP)

PENAJAM – Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat laju inflasi tahun kalender (year-to-date/YTD) tertinggi di Kalimantan Timur hingga Juli 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 3 Agustus 2026, inflasi YTD PPU mencapai 3,00 persen, melampaui Balikpapan (2,50 persen), Samarinda (2,83 persen), dan Berau (1,35 persen).

Sementara secara tahunan (year-on-year/YoY), inflasi PPU tercatat sebesar 2,34 persen, lebih rendah dibanding Balikpapan (3,06 persen), Samarinda (3,77 persen), dan Berau (2,88 persen).

Adapun secara bulanan (month-to-month/MtM), inflasi PPU pada Juli 2026 mencapai 0,28 persen, tertinggi di antara daerah Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kalimantan Timur. Sebagai perbandingan, inflasi bulanan Balikpapan sebesar 0,25 persen, Samarinda 0,20 persen, sedangkan Berau mengalami deflasi sebesar 0,18 persen.

Kepala Bagian Ekonomi dan SDA Sekretariat Daerah Kabupaten PPU, Krisna Aditama, mengatakan tekanan inflasi pada Juli dipicu kenaikan harga sejumlah komoditas pangan dan energi.

"Pada Juli 2026, pendorong utama inflasi di PPU adalah daging ayam ras yang memberikan andil sebesar 0,31 persen. Selain itu, komoditas hasil laut seperti ikan tongkol atau ikan ambu-ambu sebesar 0,15 persen dan ikan laying atau ikan benggol sebesar 0,12 persen juga memberikan andil yang cukup dominan," ujarnya, Rabu (5/8).

Baca Juga: Sekkab PPU Soroti Minimnya Investasi, Job Fair 2026 Hanya Sediakan 250 Lowongan

Selain itu, kenaikan harga bensin memberikan andil inflasi sebesar 0,10 persen dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,08 persen.

Di sisi lain, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi melalui penurunan harga. Komoditas tersebut antara lain cabai rawit (-0,18 persen), tomat (-0,18 persen), buncis (-0,08 persen), jagung manis (-0,07 persen), dan kacang panjang (-0,06 persen).

Meski menjadi yang tertinggi di Kalimantan Timur, Krisna menjelaskan inflasi bulanan PPU sebenarnya mengalami perlambatan dibandingkan Juni 2026. Pada bulan sebelumnya, inflasi MtM tercatat sebesar 0,39 persen dengan inflasi YTD 2,71 persen dan inflasi YoY 2,96 persen.

Ia menyebut terdapat perubahan komoditas penyumbang inflasi dari Juni ke Juli. Pada Juni, bensin menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,23 persen, diikuti bawang merah (0,09 persen), minyak goreng (0,08 persen), cabai rawit (0,08 persen), dan bahan bakar rumah tangga (0,08 persen).

"Menariknya, daging ayam ras yang menjadi pemicu utama di bulan Juli, justru menjadi penekan deflasi terbesar pada Juni lalu dengan andil minus 0,17 persen," jelasnya.

Secara umum di Kalimantan Timur, Kota Samarinda masih mencatat inflasi tahunan tertinggi, yakni 3,77 persen pada Juli 2026. Sementara Balikpapan berhasil menekan inflasi bulanan dari 0,86 persen pada Juni menjadi 0,25 persen pada Juli.

Krisna menambahkan, Pemerintah Kabupaten PPU terus memantau perkembangan harga komoditas pangan dan energi sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas daya beli masyarakat serta mengendalikan inflasi agar tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan pemerintah.

Editor : Muhammad Ridhuan
inflasi PPU Juli 2026 harga ayam PPU Inflasi Kaltim BPS PPU ekonomi PPU