Harga Cabai Rawit di PPU Sempat Rp 100 Ribu, Kini Turun Jadi Rp 60 Ribu per Kg

Ahmad Maki • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:17 WIB
NAIK: Harga cabai rawit merah naik cukup tinggi di PPU hingga Rp 75 ribu lebih per kilogram.(ist)
NAIK: Harga cabai rawit merah sempat naik cukup tinggi di PPU hingga Rp100 ribu lebih per kilogram. (Ilustrasi)

PENAJAM – Harga cabai rawit di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) sempat melonjak hingga Rp100 ribu per kilogram. Ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah serta perubahan cuaca di wilayah penghasil menjadi salah satu pemicu kenaikan komoditas tersebut.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas KUKM Perindag PPU, Marlina, mengatakan cabai rawit merupakan salah satu komoditas pangan yang sangat sensitif terhadap perubahan cuaca.

“Kemarin memang ada kenaikan dari segi cabai, bahkan sempat tembus Rp 100.000 per kilogram. Cabai ini paling sering mengalami kenaikan karena karakternya sensitif. Saat curah hujan terlalu tinggi tidak tahan, saat kemarau juga tidak tahan. Dia membutuhkan cuaca yang sedang,” jelas Marlina, Selasa (11/8/2026).

Baca Juga: Cabai Rawit dan Bawang Merah Anjlok, Bank Indonesia Sebut Tekanan Inflasi Kaltim Melandai

Namun, harga cabai rawit kini mulai kembali terkendali. Harga di tingkat pasar PPU telah turun menjadi sekitar Rp60 ribu per kilogram.

Penurunan tersebut dipengaruhi mulai masuknya masa panen lokal serta tambahan pasokan dari wilayah distributor di luar PPU.

Panen Lokal Redam Harga Cabai

Dinas KUKM Perindag PPU berharap peningkatan produksi pertanian lokal dapat terus dilakukan. Pasalnya, penguatan pasokan dari dalam daerah dinilai dapat membantu mengurangi tekanan harga ketika terjadi gangguan produksi di daerah pemasok.

Selain cabai rawit, sejumlah komoditas pangan lainnya juga menunjukkan kondisi relatif stabil.

Harga telur ayam, misalnya, telah mengalami penurunan sehingga kembali lebih terjangkau masyarakat.

Sementara itu, ketersediaan ikan masih relatif aman meski kondisi laut pada Agustus dipengaruhi gelombang tinggi akibat angin selatan.

Marlina mengatakan kondisi tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap pasokan ikan karena masyarakat PPU memiliki sumber ikan alternatif dari hasil budidaya.

“Pada kondisi bulan Agustus ini gelombang laut memang sangat tinggi akibat angin selatan. Namun masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada sumber ikan dari laut. Banyak sumber lain seperti hasil panen empang dan budidaya, misalnya ikan bandeng dan nila,” tuturnya.

Menurutnya, keberadaan kolam dan empang budidaya menjadi salah satu penyangga pasokan pangan masyarakat ketika aktivitas nelayan tangkap terganggu akibat cuaca buruk.

Marlina juga mengapresiasi masyarakat yang mengembangkan budidaya ikan secara mandiri. Aktivitas tersebut dinilai membantu menjaga ketersediaan ikan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap hasil tangkapan laut.

 

Editor : Muhammad Ridhuan
harga pangan Penajam harga cabai PPU inflasi PPU harga cabai rawit PPU Dinas KUKM Perindag PPU