KALTIMPOST, SEPAKU – Sampah dapur yang selama ini berakhir di tempat pembuangan mulai dimanfaatkan warga RT 06 Desa Tengin Baru, Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU). Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Mulawarman (Unmul), warga diajak mengolah sampah organik menjadi kompos sekaligus mengembangkan pekarangan sebagai sumber pangan rumah tangga.
Program bertajuk “Strategi Integratif Pengelolaan Food Waste dan Pekarangan Produktif untuk Ketahanan Pangan di Desa Delinase IKN” itu dilaksanakan pada 2026 melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat-Pengabdian kepada Masyarakat.
Program diketuai Putri Daulika, S.P., M.P., M.B.A., bersama Ridzky Zul Asdi, S.T., M.T. dan Dr Odit Ferry Kurniadinata, S.P., M.Si., serta melibatkan mahasiswa. Kelompok masyarakat RT 06 Desa Tengin Baru menjadi mitra kegiatan yang berada di kawasan delineasi Ibu Kota Nusantara (IKN).
Warga tidak hanya mendapatkan alat dan bahan, tetapi juga mengikuti praktik langsung pengolahan sampah organik. Sejumlah metode diperkenalkan, mulai pembuatan kompos menggunakan EM4 untuk menghasilkan bokasi dan pupuk organik cair (POC), metode Takakura, hingga pengembangan pekarangan produktif dengan konsep vertical garden.
Ubah Cara Pandang terhadap Sampah Dapur
Program tersebut mendorong warga mengubah cara pandang terhadap sisa makanan. Kulit buah, sisa sayuran, nasi, hingga ampas kopi dan teh yang selama ini dianggap sampah dapat kembali dimanfaatkan.
Langkah pertama yang diperkenalkan adalah pemilahan sampah dari sumbernya. Sampah organik yang bisa dikomposkan dipisahkan dari plastik, kaca, logam, minyak, tulang, daging, dan material lain yang tidak sesuai untuk pengomposan rumah tangga.
Pemilahan menjadi penting karena kualitas bahan turut menentukan keberhasilan proses pengomposan. Sampah organik juga dapat dicacah menjadi ukuran lebih kecil agar proses penguraian berlangsung lebih cepat.
Konsep yang dibangun sederhana. Sampah dikurangi sejak dari rumah, diolah menjadi pupuk, kemudian pupuk dikembalikan untuk mendukung produksi pangan.
Kenalkan Dua Metode Pengomposan
Dalam pelatihan, warga diperkenalkan dengan sejumlah teknologi tepat guna yang dapat diterapkan dalam skala rumah tangga.
Salah satunya menggunakan EM4 melalui proses fermentasi untuk menghasilkan bokasi dan pupuk organik cair. Dalam praktiknya, EM4 dikombinasikan dengan molase atau gula merah cair sebagai bagian dari larutan aktivator.
Hasil pengolahan kemudian dimanfaatkan kembali oleh kelompok pengelola sampah RT 06. Kompos yang dihasilkan dapat digunakan untuk kebutuhan pekarangan maupun dikembangkan menjadi produk kelompok.
Selain EM4, warga juga diperkenalkan dengan metode Takakura. Pengomposan aerob ini menggunakan keranjang yang memungkinkan sirkulasi udara tetap berlangsung.
Sisa sayuran, buah, nasi, roti, ampas kopi atau teh dicampurkan dengan kompos starter dan bahan kering seperti sekam. Perawatannya dilakukan dengan mengaduk kompos secara rutin serta menjaga kelembapannya agar tidak terlalu basah maupun kering.
Kompos matang ditandai dengan warna cokelat tua hingga kehitaman, tekstur remah, suhu yang mendekati suhu lingkungan serta aroma menyerupai tanah atau humus.
Kompos Kembali ke Pekarangan
Program tidak berhenti pada pengurangan volume sampah. Kompos dan POC yang dihasilkan warga diarahkan untuk dimanfaatkan kembali sebagai input pekarangan produktif.
Warga diperkenalkan dengan konsep vertical garden sebagai solusi bercocok tanam di lahan terbatas. Media tanam dapat dibuat dari campuran kompos matang, tanah dan arang sekam dengan perbandingan 1:1:1.
Jenis tanaman yang dikembangkan juga disesuaikan dengan kebutuhan rumah tangga. Di antaranya pakcoy, kangkung, bayam, sawi, cabai, tomat, serai, seledri hingga tanaman herbal.
Dengan pola tersebut, terbentuk siklus sederhana. Sisa makanan dari dapur dipilah dan diolah menjadi kompos atau pupuk organik cair. Pupuk digunakan untuk pekarangan, kemudian pekarangan menghasilkan sayuran yang bisa dikonsumsi keluarga.
Sisa organik dari proses tersebut selanjutnya dapat kembali diolah menjadi kompos.
Konsep itu menjadi bentuk ekonomi sirkular dalam skala rumah tangga. Sesuatu yang sebelumnya dibuang kembali masuk ke dalam sistem produksi dan memberikan manfaat baru.
Dorong Ketahanan Pangan Rumah Tangga
Program PKM Unmul tidak hanya menyasar kebersihan lingkungan. Pemanfaatan pekarangan juga diarahkan untuk memperkuat ketersediaan pangan rumah tangga.
Ketika sebagian kebutuhan sayuran dapat dipenuhi dari pekarangan dan pupuk dihasilkan dari sampah organik sendiri, masyarakat memiliki sumber daya yang lebih mandiri.
Sejumlah indikator juga disiapkan untuk melihat keberlanjutan program. Mulai dari berkurangnya sampah organik yang dibuang, aktifnya komposter, terbentuknya kompos matang, tanaman yang tumbuh hingga dapat dipanen, serta keberlangsungan kelompok pengelola.
Tantangan Ada di Keberlanjutan
Setelah pelatihan selesai, tantangan berikutnya adalah menjaga agar kebiasaan tersebut terus berjalan. Karena itu, kegiatan juga diarahkan pada penguatan kelembagaan kelompok.
Pembagian tugas dapat dilakukan mulai ketua kelompok, sekretaris, operator komposter, koordinator pekarangan hingga bagian pengemasan dan pemasaran.
Produksi kompos juga dapat dicatat secara rutin sehingga kelompok mengetahui jumlah sampah yang berhasil diolah serta hasil yang diperoleh.
Jika produksi sudah stabil, kompos dapat dikemas untuk digunakan sendiri, dibagikan kepada masyarakat atau dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Namun, nilai ekonomi bukan menjadi tujuan utama pada tahap awal. Prioritasnya adalah membangun kebiasaan memilah sampah, mengurangi sampah yang dibuang, memanfaatkan kompos serta menjaga pekarangan tetap produktif.
Dari RT 06 Desa Tengin Baru, pengelolaan sampah dan ketahanan pangan coba dipertemukan dalam satu siklus. Sisa dapur diolah menjadi pupuk, pupuk menghidupkan pekarangan, dan pekarangan kembali menghasilkan pangan bagi keluarga.
Perubahan itu dimulai dari langkah sederhana, yakni memilah sisa makanan setiap hari. Jika dilakukan secara konsisten dan bersama-sama, kebiasaan tersebut dapat menjadi langkah menuju lingkungan yang lebih bersih, masyarakat lebih produktif, serta ketahanan pangan rumah tangga yang lebih kuat.(*)
Editor : Thomas Priyandoko