MEMANAS! Kecewa Tak Ditemui Bank Tanah, Warga Korban Relokasi IKN Ancam Segel Bandara VVIP

Ari Arief • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 12:54 WIB
DEMO BANDARA IKN: Warga dua kelurahan Gersik dan Jenebora, Kecamatan Penajam, PPU, menggelar aksi di Bandara VVIP IKN buntut belum rampungnya lahan relokasi.(IST)
DEMO BANDARA IKN: Warga dua kelurahan Gersik dan Jenebora, Kecamatan Penajam, PPU, menggelar aksi di Bandara VVIP IKN buntut belum rampungnya lahan relokasi.(IST)

KALTIMPOST.ID,PENAJAM–Amarah puluhan warga korban dampak pembangunan IKN akhirnya tumpah. Membuktikan ancaman yang terlontar dalam riak konflik lahan sebelumnya, warga dari dua kelurahan Gersik dan Jenebora di Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) yang tergabung dalam Forum Penanganan Dampak Sosial Kemasyarakatan (PDSK) Lahan Relokasi PPU Bersatu nekat menggelar aksi demonstrasi menduduki kawasan Bandara VVIP IKN, Rabu (26/8).

Suasana di depan Gedung Bandara VVIP Nusantara tampak memanas sejak pagi. Puluhan warga yang berorasi dengan membawa spanduk dan atribut aksi menutup akses utama menuju area bandara. Mereka menyuarakan kekecewaan atas polemik lahan relokasi yang tak kunjung menemui titik terang.

Baca Juga: Sinergi TNI-Polri dan BPBD PPU Berhasil Padamkan Karhutla di Desa Sesulu

Dalam aksi  tersebut, massa membawa lima tuntutan krusial. Mereka mendesak pemerintah dan pihak terkait untuk segera menyediakan lahan relokasi yang clean and clear, mempercepat proses relokasi tahap berikutnya, memberikan Sertifikat Hak Milik (SHM) secara gratis, menyerap tenaga kerja lokal dalam proyek pembangunan, serta  tegas meminta ganti rugi berupa pembayaran uang tunai.

Namun, situasi kian memanas setelah forum menyadari perwakilan pejabat berwenang mangkir dalam dialog yang dijanjikan.

Baca Juga: Empat Pencuri Kabel Tembaga di Kawasan IKN Diringkus Polsek Sepaku PPU

Salah seorang warga yang ikut dalam barisan demonstran, Abdul Rasyid, menegaskan bahwa tidak ada satupun perwakilan dari Badan Bank Tanah maupun jajaran Forkopimda PPU yang hadir menemui warga, padahal secara resmi telah diundang.

"Dari pihak Bank Tanah dan Forkopimda PPU yang kami undang, satu pun tidak ada yang hadir! Hanya ada pihak pengelola bandara dan aparat pengamanan yang berada di lokasi," tegas Abdul Rasyid di tengah riuhnya suara orasi warga.

"Petani meminta untuk dibayar,karena lahan yang mau direlokasi untuk petani sudah dikuasain dan dipastikan untuk tahap 2,3,4,5,dan 6 tidak tersedia lagi lahannya, sehingga petani minta dibayar," jelasnya.

Baca Juga: BMKG Imbau Warga PPU Waspadai Cuaca Terik dan Suhu Tinggi hingga Akhir Pekan

Lantaran tak ditemui pejabat pengambil keputusan, warga mengeluarkan ultimatum keras. Mereka mengancam akan menyegel gedung Bandara VVIP IKN dan mengambil alih aset secara fisik jika aspirasi mereka terus digantung.

"Apabila sampai sore ini petani tidak mendapatkan kepastian, maka kami seluruh korban relokasi akan bergerak menduduki area lahan masing-masing yang sekarang sudah berdiri runway (landasan pacu) dan gedung-gedung fasilitas bandara," tambahnya.

Baca Juga: Polres PPU Selidiki Kasus Penganiayaan Pakai Parang di Area PT KMS Penajam

Hingga berita ini diturunkan, sekira 70 warga masih bertahan dan berorasi  di depan Gedung Bandara VVIP IKN. Aparat kepolisian bersama pengelola bandara terus bersiaga ketat mengawal jalannya aksi guna mengantisipasi eskalasi massa yang mengancam bakal melakukan penyegelan total dan pembendungan di area runway bandara vital Nusantara tersebut. (*)

Editor : Thomas Priyandoko
shm demo Bandara VVIP IKN