Gunakan Teknologi RAS 24 Kolam, Panen Tematik PPU Diproyeksi Pasok IKN Dukung Ketapang Nasional

Ahmad Maki • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 13:05 WIB
Musakkar Mulyadi (AHMAD MAKI/KALTIM POST)

 

 
Musakkar Mulyadi (AHMAD MAKI/KALTIM POST)    

 

KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Pelaksanaan program budidaya ikan tematik di Desa Labangka Barat dan Bangun Mulya dipastikan membawa angin segar dari sisi teknologi dan regulasi. Berbeda dari tahun sebelumnya yang menggunakan sistem bioflok, regulasi terbaru beralih ke sistem Recirculating Aquaculture System (RAS) yang jauh lebih hemat air dan ramah lingkungan.

Baca Juga: Dinas Perikanan Ajukan Proposal Budidaya Ikan Tematik ke Kementerian, Sasar Labangka Barat

Terkait skema pengusulan, Kabid Perikanan Budidaya dan Lingkungan Dinas Perikanan PPU, Musakkar Mulyadi, menjelaskan bahwa alur birokrasi kini ditujukan langsung dari tingkat desa.

"Desa yang akan memantau kelangsungan usahanya, sementara teknis pengelolaan di lapangan akan dijalankan oleh Kelompok Daya Masyarakat Perikanan (KDMP) atau Koperasi Desa (Kopdes)," ujarnya, Rabu (26/8/2026).

Baca Juga: MEMANAS! Kecewa Tak Ditemui Bank Tanah, Warga Korban Relokasi IKN Ancam Segel Bandara VVIP

Bantuan APBN ini direncanakan berbentuk hibah barang, di mana setiap desa akan menerima 24 unit kolam terpal. Pemkab PPU bertugas mengawal pendampingan teknis dari awal hingga panen.

Musa merinci kalkulasi potensi produksi dari paket bantuan tersebut. Untuk kapasitas tebar1.000 ekor benih per kolam, tingkat kelangsungan hidup (Survival Rate) sekitar 80 perse (sekitar 800 ekor bertahan per kolam).

"Ukuran panen 5 ekor per kilogram(sekitar 160 kg ikan per kolam).Total potensi panen 3,84 ton per siklus panen serentak (24 kolam)," rincinya.

"Untuk tahap awal panen dilakukan serentak, namun selanjutnya pola panen bisa diatur berjenjang per bulan dari 24 unit kolam tersebut oleh KDMP dan pihak desa," sambungnya.

Baca Juga: BRIN Dorong Digitalisasi KPM PKH Paser untuk Putus Rantai Kemiskinan

Hilirisasi hasil panen ini diproyeksikan untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan kawasan strategis. Produksi ikan akan disuplai untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG), memenuhi kebutuhan pangan di kawasan IKN, serta pasar lokal PPU.

"Jika ke depan hasil produksi melimpah, Koperasi desa juga diarahkan untuk membuka unit usaha alternatif di bidang pengolahan hasil perikanan, seperti pembuatan abon ikan atau produk olahan bernilai tambah lainnya untuk menopang ekonomi desa," tutup Musa. (*)

Editor : Sukri Sikki
budidaya ikan regulasi Labangka Barat Penajam Paser Utara (PPU)