Sebaran Titik Karhutla di PPU Bergeser pada 2026, BPBD Catat Lokasi Kebakaran Lebih Variatif

Ahmad Maki • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 11:19 WIB
Kepala Pelaksana BPBD PPU - Nurlaila
Kepala Pelaksana BPBD PPU - Nurlaila

KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) membeberkan pemetaan wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pada tahun 2026.

Berdasarkan pantauan lapangan, sebaran titik api tahun ini dinilai jauh lebih variatif dan menyebar dibanding pola kejadian pada siklus tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga: Anak Donald Trump Jadi Incaran Iran, Tawarkan Hadiah Rp 177 Miliar    

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten PPU Nurlaila menjelaskan, gambaran kejadian Karhutla di wilayahnya pada 2026 menunjukkan tren pergeseran lokasi.

Pada periode siklus El Nino 2018, 2019, hingga 2023, titik api berskala besar mendominasi kawasan seperti Kelurahan Petung, Desa Giri Purwa, serta Kelurahan Gunung Steleng. 

"Sementara daerah seperti Kecamatan Waru dan Babulu cenderung hanya mencatatkan kejadian berskala kecil," kata Lala, sapaan akrab Nurlaila, Rabu (26/8).

Baca Juga: Pansus II DPRD Paser Himpun Masukan untuk Formulasi Raperda Fasilitasi Pesantren

Namun, situasi di 2026 menghadirkan tantangan baru bagi tim satgas pemadam. Beberapa wilayah yang sebelumnya relatif aman justru menjadi area penanganan baru. Salah satunya adalah wilayah Sepan, yang pada siklus El Nino tahun-tahun sebelumnya tidak pernah membutuhkan penanganan darurat Karhutla.

"Di lokasi tersebut, proses pemadaman bahkan memakan waktu hingga lima hari berturut-turut lantaran karakteristik material tanah dan vegetasi yang sangat sulit dipadamkan," ujarnya.

Selain Sepan, pergeseran titik api juga menyasar akses strategis di PPU, seperti jalur masuk menuju Bandara VVIP dan kawasan Pulau Balang RT 06, Kelurahan Rico. Karhutla di area tersebut tercatat cukup luas serta menyerap energi serta armada penanganan yang sangat besar dari petugas lapangan.

Baca Juga: Duka Deddy Corbuzier, sang Ibu Meninggal Dunia di Usia 91 Tahun

Sementara itu, wilayah Kelurahan Gunung Steleng masih terus menyumbangkan titik api, meski dengan sebaran area yang berbeda dari tahun-tahun lalu. Karakteristik lahan gambut di lokasi ini memicu beberapa kali kebakaran berulang.

"Tercatat ada dua kali kejadian yang masing-masing membutuhkan penanganan selama dua hingga empat hari, disusul munculnya titik api baru di lokasi yang tak jauh dari area pertama," jelasnya.

Nurlaila menegaskan, dominasi titik Karhutla pada tahun 2026 tidak lagi monoton di satu titik rutin saja. Wilayah yang langganan kebakaran besar seperti Kelurahan Petung dan Giri Purwa tetap mencatatkan kejadian.

"Namun skalanya relatif kecil dan dapat langsung dipadamkan oleh tim di lapangan," tutupnya. (*)

Editor : Dwi Restu A
menyebar variatif penajam paser utara karhutla