KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Ancaman perubahan iklim dan fenomena El Nino mulai menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Memasuki Musim Tanam 2026/2027, sektor pertanian di daerah tersebut dihadapkan pada potensi kekeringan yang dapat memengaruhi produksi pangan.
Mengantisipasi kondisi tersebut, Dinas Pertanian (Distan) PPU mengumpulkan seluruh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Optimalisasi Penanganan Dampak El Nino, Jumat (28/8/2026).
Rakor yang diikuti PPL se-Kabupaten PPU tersebut dibuka Ketua Tim Kerja PPL Kabupaten PPU Aulia Rahman bersama Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distan PPU Gunawan.
Baca Juga: Sukses Bacitra, Pemprov Kaltim Dorong Bus BTS Segera Hadir di Samarinda
Dalam arahannya, Aulia menekankan pentingnya profesionalisme PPL dalam menjalankan tugas dan fungsi di lapangan. Setiap penyuluh juga diminta tertib melakukan pelaporan mandiri sebagai dasar penilaian kinerja dalam Sasaran Kinerja Pegawai (SKP).
“Kedisiplinan pelaporan ini berpengaruh langsung pada hak penyuluh. Keseimbangan antara hak dan kewajiban harus terus dijaga agar penilaian mandiri kinerja PPL oleh lembaga berjalan transparan dan mencetak SDM yang profesional,” ujar Aulia.
Sementara itu, Gunawan mengatakan produksi tanaman pangan dan hortikultura di PPU sepanjang 2021 hingga 2025 sebenarnya menunjukkan tren positif. Capaian tertinggi bahkan terjadi pada 2024.
Namun, memasuki Musim Tanam 2026/2027, sektor pertanian kembali menghadapi sejumlah tantangan. Mulai alih fungsi lahan, lambatnya regenerasi petani, adaptasi teknologi smart farming, peningkatan kesejahteraan petani, hingga persoalan food loss dan food waste di tingkat pascapanen.
Menurut Gunawan, tantangan yang paling mendesak saat ini adalah dampak perubahan iklim. Kondisi cuaca ekstrem seperti El Nino berpotensi menghambat tren peningkatan produksi pangan, baik di tingkat nasional maupun daerah.
“Tantangan paling mendesak saat ini adalah dampak perubahan iklim. Mempertahankan tren kenaikan produksi tidaklah mudah ketika kita harus berhadapan langsung dengan cuaca ekstrem seperti El Nino, yang berisiko menekan angka produksi nasional dan daerah pada tahun 2026 ini,” jelas Gunawan, dikonfirmasi Sabtu (29/8/2026).
Baca Juga: Bazar Buku Murah Digelar di Balikpapan, Semua Koleksi Dibanderol di Bawah Rp 100 Ribu
Data insidentil yang dihimpun Distan PPU menunjukkan ancaman kekeringan sempat melanda sejumlah lahan pertanian. Pada Juli lalu, sebanyak 204 hektare lahan terdampak kekeringan.
Beruntung, kondisi tersebut tertolong hujan lebat yang turun pada awal Agustus. Petani pun masih dapat menyelamatkan tanaman dan memanen hasil pertaniannya.
Meski demikian, ancaman kekeringan belum sepenuhnya berakhir. Laporan insidentil terbaru pada Agustus menunjukkan 19 hektare lahan yang tersebar di tiga kecamatan mulai terdampak kekeringan dan membutuhkan penanganan cepat.
Untuk menjaga stabilitas ketersediaan pangan harian serta mencegah ketimpangan pasokan antarbulan, Distan PPU mendorong sejumlah langkah taktis. Di antaranya pemanfaatan pekarangan rumah, budidaya tanaman dalam pot, serta gerakan menanam aneka sayuran.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga produksi pangan lokal tetap berjalan meski menghadapi perubahan musim.
“Kita membutuhkan teknologi sederhana yang memungkinkan masyarakat panen sepanjang waktu tanpa bergantung pada musim tanam. Ini merupakan bagian dari evaluasi Surat Edaran Bupati PPU terkait Gerakan Tanam Cabai dan Pemanfaatan Pekarangan,” tutur Gunawan.
Ia berharap para PPL dapat memperkuat pendampingan kepada masyarakat. Dengan begitu, pola tanam dan produksi pangan lokal tetap terjaga serta mampu memenuhi kebutuhan pangan secara berkelanjutan. (*)
Editor : Ery Supriyadi