KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat adanya sedikit gangguan terhadap kualitas udara di wilayah PPU sepanjang Agustus hingga awal September. Kondisi tersebut dipicu maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat musim kemarau.
Kepala Bidang Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH PPU Rakhmadi menjelaskan, fenomena asap mulai terlihat di sejumlah kawasan. Meski demikian, dia memastikan tingkat pencemaran udara saat ini masih dalam kategori terkendali dan belum membahayakan kesehatan masyarakat secara serius.
"Kualitas udara kita memang ada gangguan sedikit pada akhir Agustus sampai minggu terakhir ini. Hal ini tidak bisa dimungkiri karena efek kebakaran lahan yang menimbulkan emisi polusi. Namun, kondisinya tidak terlalu fatal dan masih tergolong sehat serta terkendali," kata Rakhmadi saat dikonfirmasi, Jumat (4/9/2026).
Baca Juga: Delapan Tahun Menanti, Persija Akhirnya Menang di Segiri
Untuk mencegah kualitas udara memburuk, DLH PPU telah melakukan sejumlah langkah preventif. Salah satunya memperkuat sinergi hingga tingkat kecamatan, kelurahan, dan desa untuk mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar.
Rakhmadi menyoroti salah satu kasus karhutla yang terjadi di wilayah Babulu. Dalam kejadian tersebut, lahan seluas kurang lebih 9 hektare terbakar akibat aktivitas pembakaran oleh pemiliknya.
Kasus tersebut kini telah ditangani dan masuk dalam proses penyidikan oleh pihak berwenang.
"Kami mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk tidak membakar lahan secara masif dan sembarangan, apalagi di tengah musim kemarau panjang seperti saat ini," tegasnya.
Untuk memantau kualitas udara secara berkala, DLH PPU bekerja sama dengan pemerintah provinsi telah memasang alat uji emisi atau stasiun pemantau di empat titik strategis.
Baca Juga: Pemkab PPU Siapkan SPBU Khusus untuk Atasi Antrean BBM
Titik pemantauan tersebut tersebar di kawasan permukiman, pinggir jalan protokol, hingga kawasan hutan kota, termasuk di wilayah Babulu dan Penajam.
"Sampel hasil uji pemantauan tersebut kemudian dikirim ke laboratorium di Samarinda untuk dievaluasi secara rutin," ucapnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi