KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Guna mencegah potensi kerugian di sektor perikanan budidaya, Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengimbau para pembudidaya ikan menunda penebaran benih baru hingga kondisi cuaca kembali membaik.
Langkah preventif tersebut difokuskan kepada pengelola kolam tanah yang dinilai paling rentan terhadap perubahan suhu dan ketersediaan air.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Lingkungan Diskan PPU Musakkar Mulyadi menyampaikan, surat imbauan telah didistribusikan sejak masa peralihan musim.
Baca Juga: Delapan Tahun Menanti, Persija Akhirnya Menang di Segiri
"Kalau kemarau jelas ada pengaruhnya, apalagi untuk kolam tanah yang sangat riskan. Makanya, sebelum memasuki puncak kemarau, kami sudah menyampaikan imbauan kepada teman-teman pembudidaya melalui aplikasi pesan grup," ujar Musakkar, Jumat (4/9/2026).
Dia menyebut imbauan penundaan tebar benih tersebut berlaku menyeluruh, baik bagi pembudidaya sektor air tawar maupun air payau.
Menurut Musakkar, penurunan volume air secara drastis saat puncak kemarau berbanding lurus dengan penurunan kualitas air. Kondisi tersebut dapat memicu lonjakan suhu dan fluktuasi kadar oksigen yang berbahaya bagi benih ikan.
Bahkan, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kematian massal apabila padat tebar tidak dikontrol.
"Sebab di masa kemarau, volume air yang menyusut drastis dan penurunan kualitas air yang ekstrem dapat memicu kematian massal pada benih. Untuk penebaran benih baru, kami sarankan tunggu sampai memasuki musim penghujan nanti," jelasnya.
Meski ancaman kemarau mulai membayangi, Diskan PPU memastikan pasokan dan produksi ikan di pasaran saat ini masih relatif stabil.
Baca Juga: Pemkab PPU Siapkan SPBU Khusus untuk Atasi Antrean BBM
Hal tersebut karena siklus budidaya sebagian besar pembudidaya telah memasuki masa panen tepat sebelum dampak kemarau memuncak.
"Dengan strategi panen tepat waktu dan penundaan tebar benih baru, para pembudidaya diharapkan dapat menekan risiko kerugian finansial sembari menunggu datangnya musim penghujan untuk memulai kembali siklus produksi secara optimal," tutupnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi