KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Penajam Paser Utara (PPU) memacu aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD) hingga ke pelosok desa. Langkah jemput bola ini digencarkan guna melipatgandakan capaian IKD yang saat ini baru berkisar 20 persen menjadi 40 persen sebelum tutup tahun.
Percepatan kepemilikan KTP digital tersebut bukan sekadar mengejar target administratif semata. Data kependudukan digital nantinya menjadi instrumen utama dalam memvalidasi penyaluran bantuan perlindungan sosial (perlinsos) bagi warga prasejahtera.
Baca Juga: 368 Istri di Penajam Gugat Cerai Suami, Kasus Nikah Dini Banyak Kandas
"Aktivasi IKD ini menjadi dasar penting karena nantinya akan dimasukkan dan dihubungkan ke dalam aplikasi sistem pelayanan perlinsos," ungkap Sekretaris Disdukcapil PPU Khansip saat dikonfirmasi, Selasa (15/9).
Disdukcapil PPU menargetkan lompatan signifikan dalam sisa beberapa bulan ke depan. Seluruh tim diterjunkan ke desa-desa yang lokasinya jauh dari pusat pemerintahan di Penajam agar masyarakat tidak terbebani biaya maupun waktu transportasi.
"Pokoknya sebelum akhir tahun ini, target kita untuk aktivasi IKD minimal di angka 30 sampai 40 persen," tegas Khansip.
Baca Juga: Tekan Pernikahan Dini, PA Penajam Perketat Syarat Dispensasi Nikah
Pelayanan keliling ini menyasar permukiman warga secara bergilir setiap pekannya. Pekan lalu petugas telah menyisir Desa Labangka, Sebakung Jaya, hingga Gunung Makmur.
Pekan ini, tim bergeser melayani warga di Sesumpu, Bangun Mulya, Gersik, Pantai Lango, Jenebora, dan Gunung Steleng. Wilayah Sepan, Riko, hingga Maridan dijadwalkan menyusul pada agenda penuntasan berikutnya.
"Ini rutin setiap pekan kita adakan layanan jemput bola pelayanan administrasi kependudukan, salah satunya aktivasi IKD," terang Khansip mengenai operasional timnya.
Baca Juga: Benzema ke Persib Bandung Bakal Jadi Transfer Super League Termahal
Respons masyarakat pedesaan terbilang tinggi dengan rata-rata 150 sampai 300 pemohon memadati posko di tiap desa atau kelurahan. Di samping IKD, warga turut memanfaatkan loket jemput bola untuk perekaman KTP-el, akta kelahiran, dan akta kematian.
"Tidak semuanya IKD, ada yang pelayanan normal seperti mengurus KTP atau akta. Tapi kita fokuskan juga warga, khususnya aparatur desa, untuk aktivasi IKD karena mereka yang jadi agen di masing-masing desa," beber Khansip.
Kendati antusiasme warga tinggi, kendala ekonomi dan ketiadaan gawai pintar (smartphone) di tingkat akar rumput masih menjadi batu sandungan. Syarat spesifikasi ponsel pintar tertentu sempat membuat sebagian warga perdesaan kesulitan mengakses aplikasi identitas digital tersebut.
Menyiasati kendala tersebut, Disdukcapil PPU memberlakukan skema pendaftaran terpadu melalui perangkat keluarga terdekat yang memiliki ponsel pintar.
"Kendalanya itu saja, ada warga yang tidak punya HP. Solusinya kita akali melalui HP anaknya atau anggota keluarga lain. Kalau kepala keluarganya mendaftar, otomatis data anak dan istrinya sudah ikut masuk di situ," pungkas Khansip.
Editor : Dwi Restu A