PENAJAM – Kondisi Pasar Induk Nenang yang masih sepi pengunjung menjadi perhatian Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Selain minim pembeli, aktivitas pedagang di luar area pasar juga masih ditemukan.
Ketua DPRD PPU Raup Muin mengatakan, Pasar Induk Nenang memiliki karakteristik dan tantangan berbeda dibandingkan pasar lainnya di wilayah PPU. Salah satunya berkaitan dengan akses dan pertimbangan biaya masyarakat saat berbelanja.
“Pasar Nenang itu memang agak unik dari potensi. Karena orang itu kan mau belanja agak efisiensi. Tetapi karena mungkin menyangkut akses ke sana biayanya cukup lumayan, umpamanya dari radius 1-2 kilo. Terus di sini banyak juga pasar-pasar yang di pinggir jalan,” kata Raup Muin, Selasa (29/9/2026).
Baca Juga: Utang Pihak Ketiga PPU Tinggal Rp800 Juta, Pembayaran Capai 99,58 Persen
Menurutnya, keberadaan pedagang di pinggir jalan tidak menjadi persoalan besar selama aktivitas tersebut tidak mengganggu ketertiban umum. Namun, kondisi itu turut memengaruhi potensi keramaian di Pasar Induk Nenang.
Raup membandingkan kondisi tersebut dengan Pasar Petung yang memiliki cakupan konsumen lebih luas. Pasar tersebut tidak hanya mengandalkan pembeli dari wilayah sekitar, tetapi juga mendapat dukungan konsumen dari sejumlah daerah lain.
“Pasar Petung didukung oleh cakupan wilayah yang jauh lebih luas karena disupport oleh konsumen dari berbagai daerah, mulai dari Waru, Sotek, hingga wilayah Tanjung,” jelasnya.
Sementara itu, menurut Raup, cakupan konsumen Pasar Induk Nenang relatif lebih terbatas. Pasar tersebut terutama melayani masyarakat dari Penajam, Gunung Steleng, Nipah-Nipah, dan Nenang.
“Kalau Pasar Induk Penajam ini kan pasarnya cuma Penajam, Gunung Steleng, Nipah-Nipah, dan Nenang itu sendiri. Iya, dan itu hasilnya dari sana, dari Penajam itu sendiri. Jadi kalau untuk hal-hal lebih memang agak-agak berat,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan