KALTIMPOST.ID-Aktivitas sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Taman Alun-Alun Kantor Bupati Penajam Paser Utara (PPU) terganggu setelah fasilitas listrik untuk lapak pedagang tidak dialirkan, Sabtu (3/10) malam.
Kondisi tersebut membuat sejumlah lapak kehilangan penerangan hingga tidak dapat menggunakan peralatan elektronik untuk menunjang penjualan.
Sementara itu, lampu penerangan umum di kawasan taman yang dikelola Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Disperkimtan) PPU tetap menyala.
Salah seorang pedagang yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan, listrik yang tidak mengalir hanya pada fasilitas yang digunakan pedagang. Ia menduga kondisi tersebut berkaitan dengan persoalan internal dalam pengelolaan fasilitas UMKM.
Baca Juga: Pekan Kebudayaan Daerah Mahulu 2026 Resmi Dibuka, Lima Kecamatan Tampilkan Seni dan Tradisi
“Sebenarnya kalau listrik untuk pengunjung ini kan nyala saja dari Perkim. Hanya saja fasilitas kami untuk mencolok lampu dan lampu UMKM diputus karena ini mungkin masih ada konflik internal,” katanya.
Pedagang lainnya mengaku sempat kebingungan karena informasi mengenai penghentian aliran listrik berubah-ubah.
Pemberitahuan mengenai rencana pemadaman sebelumnya telah diterima, tetapi pedagang sempat mengira listrik akan kembali dialirkan.
“Infonya di situ dipadamkan, terus masih labil. Tadi sempat ada pemberitahuan mau dipadamkan, tapi teman-teman sempat mengira dialirkan lagi karena ada info los PLN aman,” ujarnya.
Tidak adanya pasokan listrik berdampak langsung terhadap operasional lapak. Peralatan elektronik seperti blender tidak dapat digunakan sehingga sebagian pekerjaan harus dilakukan secara manual.
Sejumlah lapak juga terlihat minim penerangan karena pedagang tidak menyiapkan sumber listrik alternatif.
Baca Juga: Banteng Cup 2026 Resmi Bergulir di Kubar, Jadi Ajang Pemuda Junjung Sportivitas dan Persatuan
Dikonfirmasi terpisah, Ketua Himpunan UMKM Taman Alun-Alun (Huta) PPU Muhammad Pramanta Dwi Nopriandy membenarkan penghentian sementara fasilitas listrik tersebut.
Pria yang akrab disapa Tata itu mengatakan, langkah tersebut dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada pedagang mengenai pengelolaan fasilitas yang selama ini digunakan.
“Iya, hari ini kita tiadakan listrik dulu. Sebenarnya ini cuma mengedukasi saja buat teman-teman yang mungkin selama ini cuma terima hasil saja, tapi tidak tahu persisnya seperti apa,” jelasnya melalui sambungan telepon.
Menurut Tata, pedagang selama ini membayar iuran listrik sebesar Rp 20.000 per minggu. Karena fasilitas listrik tidak dialirkan pada pekan ini, iuran tersebut juga tidak dipungut.
Ia menyebut langkah itu sekaligus dimaksudkan untuk mendorong perhatian pemerintah daerah terhadap ketersediaan fasilitas penunjang bagi UMKM yang beraktivitas di kawasan alun-alun.
Tata menegaskan, pemberitahuan mengenai penghentian sementara aliran listrik sebelumnya telah disampaikan kepada pedagang melalui grup WhatsApp. (rd)
Editor : Romdani.