KALTIMPOST.ID,JAKARTA–Saat mata dunia tertuju pada Stadion Azteca yang bersiap mencetak sejarah menggelar Piala Dunia 2026, sebuah fenomena sepak bola yang tidak kalah magis justru membentang di selatan Mexico City. Warga setempat menyebutnya "Campo de los Dioses" atau Lapangan para Dewa.
Uniknya, lapangan sepak bola legendaris ini tidak dibangun dengan beton megah, melainkan tersembunyi di dalam kawah Gunung Berapi Teoca, sebuah gunung purba yang telah lama mati di kota Santa Cecilia Tepetlapa.
Setiap hari Minggu, kawah vulkanik ini disulap menjadi arena pertandingan sepak bola amatir bertajuk Liga Teoca. Kompetisi ini diikuti oleh 10 tim lokal, di mana keunikan lainnya adalah setiap tim hanya boleh diisi oleh anggota dari satu garis silsilah keluarga yang sama.
Baca Juga: Sikap Langka Presiden Meksiko, Hibahkan Tiket No. 00001 Piala Dunia 2026 kepada Gadis Pribumi
"Bagi kami, sepak bola di dalam kawah ini adalah jalan hidup. Di sini tidak ada batasan usia. Ketika sang ayah pensiun, posisinya digantikan oleh anaknya, lalu diturunkan lagi ke cucunya. Tongkat estafet itu terus berputar," kata Jorge Becerril, perwakilan liga kepada Associated Press (AP), Sabtu (30/5) WIB.
Meskipun kontur lapangan bermedan keras, berdebu, dan memiliki rumput yang tidak rata, atmosfer pertandingan selalu dipadati oleh ribuan penonton dari kota berpenduduk 10.000 jiwa tersebut. Kaum perempuan dan anak-anak tampak memenuhi pinggiran kawah untuk mendukung suami dan keluarga mereka yang bertanding.
Lahir dari Keterbatasan
Baca Juga: Nekat Siasati Jadwal Ketat, Gelandang Timnas AS Tinggalkan Skuad Piala Dunia demi Naik Pelaminan
Pemanfaatan kawah gunung berapi sebagai lapangan sepak bola ini sebenarnya lahir dari keterbatasan geografis, bukan karena gaya-gayaan. Wilayah Santa Cecilia Tepetlapa didominasi oleh pegunungan batu yang curam, sehingga warga tidak memiliki lahan datar sama sekali untuk membangun fasilitas olahraga. Kreativitas komunal akhirnya menuntun mereka melirik dasar kawah Teoca yang datar.
"Bermain di dalam kawah itu sangat menantang sekaligus luar biasa indah karena pemandangannya. Ini adalah cara kami membawa sepak bola ke ruang yang unik agar masyarakat bisa hidup sehat," kata Jonathan Flores, salah satu pemain reguler.
Menariknya, warga Santa Cecilia sangat protektif terhadap lapangan kawah ini. Mereka secara tegas menolak segala bentuk bantuan dana ataupun renovasi dari pemerintah daerah. Seluruh biaya perawatan dan pengelolaan liga murni berasal dari swadaya masyarakat.
"Bukit dan kawah ini adalah tanah komunal, milik rakyat. Kami sengaja menjauhkan pemerintah dari sini. Jika pemerintah mulai berinvestasi atau menyumbang uang, mereka pasti akan mencoba mengklaim kepemilikan lapangan ini. Kami merawatnya sendiri agar tempat ini selamanya tetap menjadi milik rakyat," kata Becerril.(*)
Editor : Thomas Priyandoko