KALTIMPOST.ID,MIAMI–Penantian panjang itu akhirnya berakhir. Untuk kali pertama dalam 52 tahun, Tim Nasional (Timnas) Sepak Bola Haiti dipastikan kembali berlaga di panggung tertinggi sepak bola dunia, Piala Dunia.
Kelolosan bersejarah ini memicu gelombang euforia luar biasa, sekaligus menjadi simbol persatuan dan harapan baru di tengah krisis multidimensi yang sedang mencengkeram negara Karibia tersebut.
Gairah tersebut sangat terasa saat ratusan warga komunitas Haiti di Miami, Amerika Serikat, memadati area museum seni di Miami Utara, Sabtu waktu setempat. Meski diguyur hujan deras, mereka tetap antusias menyambut dan memberikan dukungan langsung kepada penyerang andalan Duckens Nazon dan bek Martin Experience dalam acara jumpa fans, menjelang dua laga persahabatan pekan depan.
Bagi masyarakat Haiti, kelolosan ke Piala Dunia kali ini bukan sekadar prestasi olahraga biasa. Ini adalah kali kedua dalam sejarah mereka mencicipi putaran final Piala Dunia, setelah debut pertama mereka pada tahun 1974 silam di Jerman Barat.
Baca Juga: Alami Paceklik Gol Terburuk Sepanjang Karier, Christian Pulisic Tetap Pede Tatap Piala Dunia
"Kami akan menunjukkan bahwa kami bersatu, apa pun yang terjadi. Saya ingin Piala Dunia ini menjadi awal dari Haiti yang baru," ujar penyerang Timnas Haiti, Duckens Nazon, dengan penuh emosional di hadapan kibaran bendera negaranya.
Sumpah para pemain untuk membawa pulang kegembiraan sangat berarti bagi warga. Pasalnya, saat ini Haiti sedang berada dalam kondisi kritis. Geng bersenjata dilaporkan telah menguasai hingga 90 persen ibu kota Port-au-Prince. Akibat konflik internal tersebut, Timnas Haiti bahkan terpaksa mengungsi dan memainkan laga kualifikasi "kandang" mereka di Curaçao, sebuah pulau kecil di Karibia Belanda.
Tantangan tim juga semakin berat setelah satu-satunya pemain yang berbasis di lokal Haiti terancam gagal berangkat akibat pembatasan visa yang diperketat oleh pemerintah AS di bawah administrasi Presiden Donald Trump.
Namun, segala keterbatasan dan konflik itu seolah terlupakan. Odeline Paul (49), salah satu warga Haiti yang tinggal di Miami, mengaku terharu bisa melihat langsung generasi baru Timnas Haiti yang akan berlaga di Piala Dunia.
"Seumur hidup, saya hanya bisa membaca cerita atau mendengar dongeng orang tua tentang Haiti di Piala Dunia tahun 70-an. Bisa melihat mereka sekarang membawa harapan besar, rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata," tutur Paul yang sengaja membawa putranya agar mengenal ketangguhan budaya leluhurnya.
Meski Paul dan banyak warga lainnya tidak bisa menonton langsung ke stadion karena kendala harga tiket yang melonjak tinggi, mereka memastikan akan menggelar nonton bareng (nobar) besar-besaran di Miami.
Senada, Guensine Ambo, warga Haiti lainnya, menegaskan bahwa hasil akhir di Piala Dunia nanti tidak akan mengurangi rasa bangga mereka. "Menang atau kalah tidak masalah, kami akan tetap merayakannya. Butuh waktu 52 tahun bagi kami untuk bisa kembali ke sini, dan momen ini telah berhasil menyatukan kami kembali sebagai satu bangsa," katanya.(*)
Editor : Thomas Priyandoko