Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

FIFA Berlakukan Aturan Anti-Arsenal untuk Piala Dunia 2026, Gol dari Skema Bola Mati Bisa Dibatalkan

Dwi Puspitarini • Selasa, 2 Juni 2026 | 05:47 WIB
Bukayo Saka mencetak gol yang membuat Arsenal menyingkirkan Atletico Madrid di ajang Liga Champions. (Foto: AFP)
Bukayo Saka mencetak gol yang membuat Arsenal menyingkirkan Atletico Madrid di ajang Liga Champions. (Foto: AFP)

FIFA bersama Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) resmi menerapkan sejumlah perubahan peraturan yang akan mulai berlaku pada Piala Dunia 2026. Salah satu aturan yang paling menyita perhatian adalah larangan menghalangi pergerakan lawan saat situasi bola mati, sebuah regulasi yang disebut banyak pihak sebagai "aturan anti-Arsenal". 

Aturan ini berpotensi mengubah strategi tendangan sudut dan tendangan bebas yang selama beberapa musim terakhir menjadi senjata andalan sejumlah tim, terutama di kompetisi elite Eropa.

Aturan Baru Bola Mati Ubah Strategi Tim

Perubahan aturan tersebut ditujukan untuk mengurangi praktik saling menghalangi, mendorong, atau menarik pemain lawan saat situasi tendangan sudut maupun tendangan bebas. FIFA menilai tindakan tersebut semakin sering digunakan untuk menciptakan ruang bagi rekan setim yang akan menyambut bola di area penalti.

Melalui regulasi baru ini, pemain dapat dianggap melakukan pelanggaran apabila sengaja menghalangi lawan untuk bergerak atau memainkan bola. Konsep yang diterapkan menyerupai aturan dalam bola basket yang melarang pemain bertindak sebagai penghalang untuk membuka ruang secara tidak sah.

Yang menjadi perhatian, wasit kini memiliki kewenangan untuk menghentikan permainan dan memberikan sanksi bahkan sebelum bola ditendang apabila pelanggaran sudah terlihat terjadi. Dengan demikian, tim tidak lagi bisa mengandalkan kontak fisik berlebihan sebagai bagian dari strategi bola mati.

FIFA juga memberikan contoh penerapan aturan tersebut melalui gol Timnas Inggris dalam laga uji coba melawan Uruguay. Dalam proses gol yang dicetak Ben White, dua pemain Inggris terlihat menghalangi pergerakan pemain bertahan Uruguay sehingga membuka ruang bagi rekannya. Berdasarkan interpretasi aturan terbaru, situasi seperti itu berpotensi dianggap sebagai pelanggaran sehingga gol tidak akan disahkan.

Dampak aturan ini diperkirakan cukup besar bagi tim-tim yang selama ini mengandalkan efektivitas bola mati. Arsenal menjadi salah satu klub yang paling sering disebut karena keberhasilannya mencetak banyak gol dari situasi sepak pojok dan tendangan bebas dalam beberapa musim terakhir.

Sanksi Lebih Tegas untuk Protes dan Pemborosan Waktu

Selain perubahan pada skema bola mati, FIFA juga memperkenalkan sejumlah aturan disiplin yang lebih ketat. Salah satunya menyangkut perilaku pemain saat terlibat konfrontasi di lapangan.

Dalam aturan terbaru, pemain yang menutupi mulut menggunakan tangan, lengan, atau jersey ketika terlibat perselisihan berisiko menerima kartu merah. Kebijakan ini diterapkan untuk meningkatkan transparansi dan memudahkan pengawasan terhadap percakapan yang terjadi dalam situasi panas di lapangan.

Namun demikian, FIFA menegaskan bahwa aturan tersebut tidak berlaku untuk percakapan biasa yang tidak berkaitan dengan konflik atau tindakan tidak sportif. Penilaian tetap berada di tangan wasit sesuai konteks kejadian di lapangan.

FIFA juga memperketat hukuman terhadap aksi protes berlebihan kepada wasit. Pemain yang meninggalkan lapangan sebagai bentuk penolakan terhadap keputusan wasit akan langsung dikenai kartu merah. Bahkan, apabila satu tim secara bersama-sama meninggalkan lapangan pertandingan, tim tersebut dapat dinyatakan kalah.

Langkah ini diambil untuk menjaga otoritas wasit sekaligus mencegah terulangnya insiden protes yang mengganggu jalannya pertandingan pada ajang internasional.

Selain itu, FIFA berupaya mempercepat tempo permainan dengan membatasi waktu yang digunakan pemain saat meninggalkan lapangan ketika diganti. Pemain yang ditarik keluar hanya diberi waktu 10 detik untuk meninggalkan area permainan. Jika melebihi batas tersebut, pemain pengganti baru dapat masuk setelah jeda waktu tertentu sesuai ketentuan pertandingan.

Perubahan lain juga diterapkan pada situasi tendangan gawang dan lemparan ke dalam. Pemain hanya memiliki waktu lima detik untuk melanjutkan permainan setelah mendapat instruksi dari wasit. Apabila batas waktu dilanggar, tim lawan akan memperoleh keuntungan sesuai jenis pelanggaran yang terjadi.

FIFA turut menutup celah yang selama ini dimanfaatkan sejumlah tim untuk memperoleh instruksi tambahan dari pelatih saat pertandingan berlangsung. Mulai Piala Dunia 2026, tim tidak diperbolehkan melakukan pertemuan atau timeout tidak resmi ketika penjaga gawang sedang mendapatkan perawatan cedera di lapangan.

Melalui rangkaian aturan baru tersebut, FIFA berharap pertandingan dapat berlangsung lebih cepat, lebih tertib, dan lebih adil. Perubahan ini juga diyakini akan memaksa tim serta pelatih untuk menyesuaikan strategi mereka, terutama dalam memanfaatkan bola mati yang selama ini menjadi salah satu sumber gol paling efektif dalam sepak bola modern.***

Editor : Dwi Puspitarini
#Anti-Arsenal #FIFA Berlakukan Aturan Anti-Arsenal #aturan sepak bola terbaru #piala dunia 2026