KALTIMPOST.ID,WASHINGTON–Kabar gembira bagi para pencinta sepak bola yang akan menyaksikan langsung Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat (AS). Berbeda dengan aturan ketat biasanya, para suporter kini tidak akan kesulitan mencari tempat nongkrong atau menikmati minuman saat pertandingan berlangsung hingga larut malam.
Hal ini menyusul kebijakan terbaru dari para pemimpin negara bagian di AS yang resmi menandatangani izin perpanjangan jam operasional bar dan restoran selama turnamen sepak bola terakbar di dunia tersebut berlangsung.
Langkah berani ini diambil sebagai upaya nyata untuk membantu pelaku usaha lokal sekaligus meningkatkan kenyamanan para suporter, khususnya bagi mereka yang tidak kebagian tiket masuk stadion akibat lonjakan harga.
Baca Juga: Sempat Tertahan Skandal Visa, Skuad Piala Dunia Afrika Selatan Akhirnya Bisa Terbang
Di sisi lain, kebijakan ini juga dipandang sebagai upaya terakhir untuk mendongkrak penjualan sektor kuliner dan hiburan malam, setelah ekspektasi awal akan ledakan ekonomi dari Piala Dunia sempat dinilai merosot akibat inflasi dan perubahan kebiasaan konsumen pascapandemi.
Sejauh ini, sejumlah negara bagian yang menjadi tuan rumah maupun yang bersebelahan langsung dengan lokasi pertandingan telah menyetujui pelonggaran aturan penjualan alkohol tersebut. Di antaranya adalah Kansas, Missouri, New Jersey, Pennsylvania, Rhode Island, dan Washington. Sementara itu, New York dan Massachusetts dilaporkan sedang mempertimbangkan proposal serupa.
Buka hingga Pukul 5 Pagi
Dengan adanya perubahan regulasi ini, waktu penutupan tempat hiburan malam mengalami pergeseran drastis. Di Philadelphia, bar diizinkan beroperasi hingga pukul 04.00 subuh waktu setempat, bertepatan dengan perayaan hari jadi America 250. Sementara di Kansas City, beberapa bar bahkan mengantongi izin untuk tetap buka hingga pukul 05.00 pagi.
Baca Juga: Aturan Baru FIFA di Piala Dunia, Larang Pemain Tutup Mulut hingga Batasi Waktu Lemparan ke Dalam
Meski kebijakan ini bergantung pada persetujuan pemerintah daerah masing-masing dan bersifat opsional bagi pemilik usaha, industri perhotelan dan kuliner menyambutnya dengan sangat antusias. Pasalnya, sektor ini tengah berjuang menghadapi penurunan penjualan akibat inflasi global.
Mark Prinzinger, pemilik Lion Sports Bar di Philadelphia, menyebut momen menonton sepak bola bersama fans dari seluruh dunia sebagai "pengalaman yang ajaib." Berkat izin operasional yang diperpanjang dua jam lebih lama dari biasanya (dari pukul 02.00 ke pukul 04.00), ia langsung menambah staf, menyederhanakan menu, dan merancang program khusus larut malam.
"Orang-orang ingin minum bir bersama sesama fans. Hal hebat dari Piala Dunia adalah turnamen ini menyatukan orang-orang dari seluruh dunia ke satu tempat demi olahraga yang mereka cintai," ujar Prinzinger. Kebijakan di Pennsylvania ini telah disetujui langsung oleh Gubernur Josh Shapiro demi memeriahkan turnamen yang berlangsung antara 11 Juni hingga 20 Juli tersebut.
Baca Juga: Kejutan Jelang Piala Dunia 2026, Mauricio Pochettino Tunjuk Tim Ream Jadi Kapten Tertua Timnas AS
Menuai Pro-Kontra Keamanan
Kendati mendapat dukungan bipartisan dari para politisi, kebijakan ini tidak luput dari kritik. Sejumlah pihak mengkhawatirkan potensi gangguan keamanan publik dan beban kerja ekstra bagi aparat penegak hukum.
Wali Kota Kansas City, Quinton Lucas, awalnya sempat menentang dengan berguyor bahwa kotanya "tidak butuh bar yang beroperasi 23 jam." Namun, ia akhirnya melunak dan mengajukan rencana yang mengizinkan restoran serta bar buka hingga pukul 03.00 subuh, bahkan hingga pukul 05.00 pagi bagi tempat usaha yang menyerahkan rencana jaminan keamanan resmi kepada kepolisian.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, para pemilik bar menegaskan bahwa mereka telah melatih staf secara ketat untuk mencegah pengunjung minum berlebihan. "Hanya karena orang-orang berkumpul di bar menonton bola, bukan berarti mereka berniat mabuk-mabukan. Sebaliknya, mereka datang karena ingin fokus menikmati pertandingan," bela Prinzinger.
Baca Juga: Lolos Piala Dunia, Timnas Haiti Jadi Simbol Harapan Baru di Tengah Krisis
Hal senada diungkapkan anggota parlemen Rhode Island, Teresa Tanzi. "Tidak semua orang yang datang akan menenggak alkohol. Banyak juga keluarga yang datang larut malam hanya karena ingin membeli cheeseburger Amerika dan sebotol Coca-Cola," tegasnya.
Rhode Island sendiri kini tengah menimbang opsi memperpanjang penjualan alkohol hingga pukul 03.00 subuh dan jam tutup hingga pukul 04.00 pagi, melompati aturan normalnya yang membatasi operasional hingga pukul 01.00 malam.
Tren Global Melonggarkan Aturan
Baca Juga: Alami Paceklik Gol Terburuk Sepanjang Karier, Christian Pulisic Tetap Pede Tatap Piala Dunia
Fenomena berburu berkah ekonomi Piala Dunia lewat perpanjangan jam malam ini ternyata tidak hanya terjadi di AS. Pemerintah Inggris juga telah melonggarkan aturan lisensinya, sehingga pub di Inggris dan Wales diizinkan buka hingga pukul 02.00 subuh jika timnas Inggris atau Skotlandia berhasil lolos ke babak sistem gugur (knockout). Sementara di Skotlandia, otoritas lokal membolehkan pub tetap buka hingga 30 menit setelah peluit panjang pertandingan berakhir.
Berdasarkan jadwal resmi Piala Dunia, sebagian besar pertandingan sejatinya digelar dari siang hingga awal malam waktu setempat. Namun, terdapat empat pertandingan yang akan kick-off tepat tengah malam, dan delapan pertandingan dimulai pukul 22.00 malam bagi penonton di zona waktu timur (Eastern Time).
Baca Juga: Lionel Messi Masuk Skuad Piala Dunia Argentina, Pelatih Scaloni Tepis Kekhawatiran Cedera
Kendati demikian, para analisis industri tetap mengingatkan adanya tantangan. David Henkes, prinsip senior di Technomic—firma pemantau tren industri makanan dan restoran—menyebut bahwa kebiasaan konsumen di AS telah bergeser sejak pandemi Covid-19, di mana masyarakat kini lebih memilih keluar rumah lebih awal dan lebih hemat berbelanja.
"Menjaga toko tetap buka hingga dini hari atau sepanjang malam sangatlah sulit saat ini karena faktor kelangkaan tenaga kerja. Saya mengapresiasi upaya pemerintah memberi kesempatan restoran meraup pendapatan lebih, namun saya tidak yakin pasarnya akan cukup besar bagi semua pelaku usaha untuk ikut serta," kata Henkes.(*)
Editor : Thomas Priyandoko