KALTIMPOST.ID - Piala Dunia 2026 belum resmi dimulai, tetapi kekhawatiran sudah muncul di Inggris. Di tengah tingginya antusiasme masyarakat menyambut turnamen sepak bola terbesar dunia itu, aktivitas judi ilegal dan promosi iklan perjudian disebut mengalami peningkatan signifikan.
Turnamen Piala Dunia 2026 akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dengan format baru yang melibatkan 48 negara peserta. Besarnya perhatian publik terhadap ajang tersebut dinilai menjadi peluang bagi pelaku taruhan online ilegal untuk memperluas pasar mereka.
Sejumlah laporan terbaru menunjukkan bahwa menjelang Piala Dunia 2026, operator judi ilegal semakin agresif memasarkan layanan mereka kepada masyarakat Inggris melalui berbagai platform digital.
Belanja Iklan Judi Ilegal Terus Naik
Analisis dari perusahaan intelijen pemasaran global WARC mengungkapkan operator perjudian yang tidak berada di bawah pengawasan regulator kini menguasai hampir separuh total belanja iklan perjudian di Inggris.
Beberapa tahun lalu, perusahaan taruhan berizin masih mendominasi pasar iklan dengan porsi lebih dari 80 persen. Namun kondisi tersebut mulai berubah. Saat ini kontribusi mereka hanya sedikit di atas 50 persen dan diperkirakan akan terus menurun dalam beberapa tahun mendatang.
Temuan ini menunjukkan pertumbuhan pasar gelap perjudian berlangsung semakin cepat, terutama menjelang momentum besar seperti Piala Dunia 2026.
Nilai Taruhan ke Operator Ilegal Diperkirakan Melonjak
Data dari H2GC memperkirakan nilai taruhan online yang mengalir ke operator ilegal di Inggris dapat meningkat hampir dua kali lipat dalam beberapa tahun ke depan.
Nilainya diproyeksikan naik dari sekitar 17 miliar poundsterling pada tahun ini menjadi lebih dari 33 miliar poundsterling pada 2028. Jika tren tersebut berlanjut, hampir 20 persen taruhan daring di Inggris berpotensi masuk ke pasar perjudian ilegal.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran karena semakin banyak konsumen yang berinteraksi dengan platform yang tidak berada di bawah pengawasan regulator resmi.
Pertumbuhan judi ilegal juga didorong oleh strategi promosi yang semakin agresif di internet. Banyak situs menawarkan berbagai kemudahan yang menarik perhatian pengguna, mulai dari taruhan menggunakan aset kripto hingga layanan yang diklaim tidak memerlukan verifikasi identitas.
Sebagian operator bahkan menggunakan identitas dan merek yang menyerupai perusahaan resmi sehingga sulit dibedakan oleh masyarakat.
Situasi tersebut dinilai berisiko, terutama bagi pengguna muda yang lebih sering terpapar promosi iklan perjudian melalui media digital dibandingkan media konvensional.
Perbedaan Besar Operator Legal dan Ilegal
Di Inggris, perusahaan taruhan yang memiliki lisensi wajib mematuhi berbagai aturan perlindungan konsumen. Mereka harus melakukan verifikasi usia, menerapkan pencegahan pencucian uang, serta menyediakan layanan perlindungan bagi pemain yang berisiko mengalami masalah perjudian.
Selain itu, operator resmi juga berkontribusi terhadap pendanaan olahraga dan program penanganan dampak perjudian.
Sebaliknya, operator judi ilegal tidak memiliki kewajiban tersebut. Mereka tidak diwajibkan melakukan pemeriksaan yang memadai dan tidak menyediakan perlindungan bagi kelompok rentan, termasuk pemain di bawah umur.
Industri taruhan legal di Inggris saat ini juga menghadapi aturan yang semakin ketat, termasuk penghentian sponsor perjudian di bagian depan jersey klub Liga Inggris mulai musim depan.
Namun sejumlah pihak menilai langkah tersebut belum tentu mengurangi aktivitas taruhan. Sebab, operator ilegal masih dapat memanfaatkan berbagai saluran promosi lain yang berkaitan dengan pertandingan sepak bola dan siaran olahraga.
Menjelang Piala Dunia 2026, perhatian kini tidak hanya tertuju pada persaingan di lapangan. Regulator dan pelaku industri juga menghadapi tantangan besar untuk memastikan masyarakat tidak semakin terpapar layanan judi ilegal yang terus berkembang di ruang digital.***
Editor : Dwi Puspitarini