KALTIMPOST.ID - Piala Dunia 2026 tinggal beberapa hari lagi. Namun menjelang dimulainya turnamen terbesar FIFA itu, isu keamanan kembali menjadi perhatian setelah dua insiden kekerasan terjadi di New York dan Kansas City, Amerika Serikat.
Perhelatan Piala Dunia 2026 yang akan menghadirkan jutaan suporter dari berbagai negara kini dihadapkan pada tantangan besar. Dalam waktu kurang dari dua hari, aksi penusukan dan penembakan di dua kota tuan rumah memicu kekhawatiran soal kesiapan pengamanan selama turnamen berlangsung.
Meski pemerintah Amerika Serikat menegaskan tidak ada ancaman khusus terhadap Piala Dunia 2026, rangkaian insiden tersebut membuat aspek keamanan kembali menjadi sorotan utama menjelang kick-off.
New York Diguncang Penusukan di Kawasan Sibuk
Insiden pertama terjadi di New York pada Minggu waktu setempat. Enam orang dilaporkan terluka akibat aksi penusukan di kawasan Penn Station, salah satu pusat transportasi tersibuk di Amerika Serikat.
Seluruh korban langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Satu korban dilaporkan mengalami luka serius, sementara pelaku telah diamankan aparat kepolisian.
Peristiwa ini terjadi saat New York sedang bersiap menjadi pusat perhatian dunia olahraga. Selain menjadi lokasi Final NBA, kawasan metropolitan New York juga akan menjadi salah satu titik penting penyelenggaraan Piala Dunia 2026 melalui MetLife Stadium yang berada di New Jersey.
Pascainsiden, aparat meningkatkan pengamanan di sejumlah titik strategis dan mengimbau masyarakat menghindari area sekitar lokasi kejadian karena adanya pengaturan lalu lintas dan transportasi.
Penembakan di Kansas City Tambah Kekhawatiran
Kekhawatiran soal keamanan Piala Dunia 2026 juga muncul dari Kansas City. Sedikitnya sembilan orang terluka dalam insiden penembakan yang terjadi pada Sabtu malam waktu setempat.
Pihak kepolisian menyatakan tidak ada korban yang mengalami luka mengancam jiwa. Meski demikian, beberapa korban harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Perhatian publik tertuju pada lokasi kejadian yang berada tidak jauh dari Swope Soccer Village. Fasilitas tersebut dijadwalkan menjadi pusat latihan Timnas Inggris selama Piala Dunia 2026 berlangsung.
Hingga kini, aparat masih melakukan penyelidikan dan memburu pelaku penembakan.
Operasi Pengamanan Terbesar Disiapkan
Piala Dunia 2026 menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah dengan melibatkan 48 negara peserta dan total 104 pertandingan. Amerika Serikat akan menjadi tuan rumah utama dengan mayoritas pertandingan digelar di berbagai kota.
Besarnya skala turnamen membuat pemerintah federal, aparat keamanan lokal, hingga lembaga penegak hukum nasional menyiapkan operasi pengamanan dalam jumlah besar.
Berbagai teknologi modern akan digunakan untuk mendukung pengamanan, mulai dari sistem pemantauan berbasis kecerdasan buatan, drone pengawas, hingga pusat komando yang beroperasi selama pertandingan berlangsung.
Penggunaan drone oleh masyarakat di sekitar stadion dan zona suporter juga akan dibatasi selama turnamen berlangsung.
Meski dua insiden terjadi menjelang pembukaan Piala Dunia 2026, pemerintah Amerika Serikat menegaskan belum menemukan ancaman yang secara spesifik mengarah pada turnamen tersebut.
Otoritas keamanan menyatakan pemantauan terus dilakukan secara intensif di seluruh kota tuan rumah. Langkah itu diambil untuk memastikan jutaan suporter yang diperkirakan hadir dapat menikmati pertandingan dengan aman.
Namun tingginya angka kekerasan bersenjata di Amerika Serikat membuat kekhawatiran publik belum sepenuhnya mereda. Karena itu, kesiapan aparat dalam menjaga keamanan selama Piala Dunia 2026 akan menjadi salah satu faktor yang terus mendapat perhatian hingga turnamen berakhir.***
Editor : Dwi Puspitarini