KALTIMPOST.ID,NEW YORK—Lonjakan sektor perjalanan dan pariwisata yang diharapkan dari penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko dilaporkan belum menunjukkan tanda-tanda signifikan.
Tingginya biaya penerbangan, mahalnya tiket pertandingan, kendala visa, hingga isu hak asasi manusia memicu penurunan jumlah wisatawan internasional ke AS secara drastis.
Baca Juga: Sejarah Baru Piala Dunia, Laga Pembuka Paling Brutal, Tiga Pemain Diusir Keluar Lapangan
Lesunya antusiasme suporter global ini memaksa industri perhotelan di kota-kota tuan rumah menurunkan tarif kamar secara besar-besaran demi menggaet tamu.
"Secara keseluruhan ini mengecewakan. Tidak ada kata lain yang bisa saya gunakan," kata CEO Hotel Association of New York City, Vijay Dandapani, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (12/6/2026).
Baca Juga: Menang Uji Coba 2-1 atas Nigeria, Portugal Tatap Piala Dunia Beriring Frustrasi Cristiano Ronaldo
Akibat kondisi ini, Asosiasi Perhotelan New York terpaksa memangkas proyeksi pendapatan terkait Piala Dunia hingga 60%, dari target awal menjadi kini hanya sekitar US$ 60 juta (sekitar Rp 983 miliar).
Berdasarkan data lembaga analitik penerbangan Cirium, pemesanan tiket pesawat dari Eropa menuju mayoritas kota tuan rumah untuk periode Juni–Juli 2026 turun rata-rata 3,8% dibandingkan tahun lalu.
Baca Juga: Panas Jelang Kick-Off, Bos FIFA Jawab Kritik Tiket Mahal Piala Dunia 2026
Penurunan paling tajam terjadi pada rute penerbangan menuju New York—kota yang dijadwalkan menggelar laga final pada 19 Juli mendatang—yakni anjlok hingga 15,8%.
Semula, FIFA memproyeksikan sebanyak 1,2 juta penggemar sepak bola akan memadati New York selama turnamen. Namun, pihak asosiasi perhotelan kini merevisi estimasi tersebut dan memperkirakan jumlah pengunjung hanya berkisar di angka 500 ribu orang.
Baca Juga: KMP Aceh Hebat 2 Meledak di Pelabuhan Ulee Lheue, 15 Mahasiswa Terluka
Sementara itu, data dari perusahaan analitik CoStar menunjukkan rata-rata tingkat pemesanan hotel di seluruh kota tuan rumah AS hanya naik tipis 0,5% dari tahun sebelumnya.
Untuk menyiasati sepinya pemesanan, sejumlah akomodasi mulai banting harga. New York Hilton Midtown, hotel terbesar di kota tersebut, memotong tarif kamarnya menjadi sekitar US$ 415 (sekitar Rp 6,8 juta) per malam selama turnamen berlangsung. Angka tersebut turun setengah dari tarif yang mereka pasarkan pada Desember lalu.
Baca Juga: Maling Gasak Uang Toko Kelontong, Tinggalkan Surat Janji Ganti Rugi Demi Biaya Sekolah Anak
Analis industri menilai minat wisatawan domestik AS juga belum mampu mendongkrak pasar. Hal ini disebabkan kepopuleran sepak bola yang masih kalah bersaing dengan cabang olahraga lokal lainnya di Negeri Paman Sam.
Kendati fase grup dinilai lesu, jaringan hotel global seperti Hilton dan Marriott menyatakan masih menaruh harapan pada lonjakan pemesanan menit-menit akhir (last-minute booking). Mereka memprediksi arus kedatangan suporter baru akan meningkat setelah kepastian tim-tim yang lolos ke fase gugur terlihat jelas.(*)
Editor : Thomas Priyandoko