KALTIMPOST.ID,JAKARTA–Atmosfer Piala Dunia yang biasanya dipenuhi sukacita, kini dirasakan berbeda oleh Tim Nasional (Timnas) Iran. Kapten tim, Ehsan Hajsafi, secara terbuka mengungkapkan bahwa partisipasi timnya dalam turnamen akbar sepak bola dunia kali ini terasa kurang menggembirakan akibat situasi konflik dan ketegangan politik yang tengah menyelimuti negara mereka.
Pernyataan tersebut disampaikan Hajsafi di tengah bayang-bayang krisis domestik dan ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran. Menurutnya, fokus para pemain terbagi antara tanggung jawab membela negara di lapangan hijau dan rasa prihatin mendalam terhadap kondisi masyarakat di Tanah Air.
"Kondisi di negara kami saat ini sedang tidak baik-baik saja. Masyarakat kami sedang menghadapi masa-masa yang sangat sulit. Oleh karena itu, atmosfer Piala Dunia kali ini tidak senikmat atau segembira turnamen-turnamen sebelumnya," ujar Hajsafi dalam sesi konferensi pers resmi.
Meski menghadapi tekanan mental yang berat akibat gejolak di dalam negeri, bek senior tersebut menegaskan bahwa skuad Team Melli (julukan Timnas Iran) akan tetap tampil profesional. Ia memastikan seluruh elemen tim berkomitmen memberikan penampilan terbaik demi memberikan sedikit hiburan bagi warga Iran yang sedang berduka.
"Tugas kami di sini adalah bertarung di lapangan dan memberikan yang terbaik. Kami berharap bisa membawa sedikit senyuman bagi masyarakat kami, meskipun kami tahu fokus dan hati kami tidak bisa sepenuhnya lepas dari apa yang sedang terjadi di rumah (Iran)," tambahnya.
Langkah Iran di turnamen ini memang terus mendapat sorotan tajam dari dunia internasional. Selain tantangan teknis di atas lapangan, para pemain juga harus menghadapi tekanan opini publik yang menuntut mereka menyuarakan sikap politik terkait situasi di negaranya.
Pada laga-laga sebelumnya, beberapa aksi simbolis dari para pemain di lapangan sempat mencuri perhatian sebagai bentuk solidaritas terhadap isu kemanusiaan dan protes yang terjadi di Iran.
Dengan situasi yang kompleks ini, tim asuhan pelatih Iran dituntut untuk menjaga soliditas internal di tengah gempuran isu non-teknis, demi menjaga peluang melangkah lebih jauh dalam kompetisi sepak bola paling bergengsi di dunia tersebut.(*)
Editor : Thomas Priyandoko